Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 September 2016
Allah,Liberty and Love
Hasil copas semoga bermanfaat...
Terbawa rasa penasaran seperti apa isi buku Irshad Manji yang sempat menghebohkan, terutama setelah adanya penolakan dan upaya pembubaran bedah buku dari pihak FPI. Mencari-cari dan akhirnya ketemu buku utuh Allah, Liberty & Love: Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan. Buku ini merupakan bukunya yang kedua diterjemahkan dari buku asli berjudul Allah, Liberty and Love: the Courage to Reconcile Faith and Freedom terbitan Random House, Canada, 2011. Buku pertamanya berjudul “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini (terjemahan dari The Trouble with Islam)”.
Buku Allah, Liberty & Love ini berisi 7 bab setebal 349 halaman. Lebih banyak berisi kisah-kisah pergulatan Manji setelah terbit buku pertama, terutama dalam menyuarakan faham kebebasan (liberalisme) di berbagai belahan dunia. 80 persen isinya adalah cerita, surel (email) dari para pengkritik maupun pendukung gerakannya.
Jika Anda ingin memahami latar belakang pemikiran Irshad Manji dari buku ini tidak akan menemukan jawaban yang memuaskan.
Pertama, buku ini bukan buku serius berisi kajian mendalam pemikiran dirinya dari aspek filosofis maupun kajian literatur seperti buku-buku daras filsafat atau sejenisnya. Buku ini lebih banyak menceritakan berbagai hal yang ia temui dari kenyataan-kenyataan mengenai banyak hal: dukungan, hujatan terhadap dirinya, kenyataan diskriminasi di dunia Islam dan di dunia Barat, serta banyak lagi.
Kedua, gaya penulisan buku ini berbeda dari buku teoritis, hal ini lebih karena latar belakang Irshad Manji sebagai jurnalis pada sebuah acara di QueerTelevision New York, sebuah acara di TV dan Internet yang mengupas budaya gay dan lesbian yang belum pernah ada sebelumnya. Pekerjaan ini pada gilirannya sangat mewarnai gaya penulisan Manji.
Ketiga, untuk memahami bagaimana metodologi kajian dari pemikiran Irshad Manji yang ia gunakan, sayangnya tidak dituliskan secara detail dalam dua bukunya. Padahal ini adalah aspek yang sangat penting. Manji lebih tertarik untuk menghantam dan menonjolkan perbedaan cara pandang tanpa membangun sebuah metodologi berpikir yang tersusun secara ilmiah, sehingga bisa dipelajari lebih lanjut. Tapi, mungkin untuk sebagian banyak pembaca, faktor inilah yang justru menyebabkan buku ini berbeda dari buku-buku lain. Karena dikemas seperti novel. Bukan seperti buku teori yang kaku.
Dalam penelusuran saya terhadap dua buku Manji, buku pertama (The Trouble with Islam) lebih tersusun secara urut mengenai sejarah hidup dan latar belakang pemikirannya dibanding dengan buku Allah, Liberty& Love, sehingga dapat lebih mudah memahami mengenai alasan kenapa ia memposisikan diri sebagai pembela hak-hak kaum gay/lesbian sembari membombardir doktrin-doktrin keagamaan yang ia anggap bertentangan dengan nilai yang ia anut.
IM Menyebut Dirinya Sebagai Lesbian?
Identitas Manji sebagai Lesbian (suka terhadap sesama jenis/wanita) dalam buku ini (Allah, Liberty & Love) nyaris kabur. Hanya ada satu pernyataan yang ia katakan mengenai identitas dirinya, sebagai berikut:
“…Fakta bahwa aku seorang lesbian yang menggugat penafsiran harfiah” (hal.31).
Pernyataan itu dilontarkan Manji dalam menanggapi email dari seorang pengkritik bernama Sidique, yang menggangap Manji sebagai duri dalam daging bagi umat Islam.
Pernyataan yang sangat jelas mengenai Irshad Manji sebagai seorang lesbian justru sangat banyak di buku sebelumnya, bahkan lengkap dengan sejarah bagaimana ia menjalin kasih dengan sesama jenis hingga kemudian memutuskan untuk mengambil jalan membela hak-hak kaum gay/lesbi. Simak tulisan Manji berikut ini (The Trouble with Islam, 2008, hal.26-27):
“Pertanyaan pertama adalah, “Bagaimana Anda bisa membuat Islam mampu menerima homoseksualitas?”Secara terbuka, kunyatakan diriku sebagai seorang lesbian. Aku memilih untuk “mengakuinya kepada dunia luar”. Karena, setelah menjadi dewasa dalam rumah tangga yang penuh penderitaan, di bawah kekuasaan Ayah yang sewenang-wenang, aku tidak akan menentang cinta suka-sama-suka yang menawarkan kegembiraan sebagai orang dewasa. Aku bertemu kekasih pertamaku pada usia dua puluhan. Beberapa minggu kemudian, aku menceritakan hubunganku dengannya kepada Ibu. Dia merespons dengan bijak, seperti biasanya. Sehingga, pertanyaan apakah aku bisa menjadi seorang muslim dan seorang lesbian pada saat yang bersamaan hampir tidak menggangguku sama sekali. Yang itu adalah agama. Yang ini adalah kebahagiaan. Aku tahu mana yang lebih kubutuhkan. Sembari mempelajari Islam, aku terus mempelajari seni mempertahankan hubungan dengan perempuan (yang merupakan hal yang lain lagi), memproduksi tayangan TV, dan secara umum menjalani hidup yang penuh pilihan bagi seorang yang berusia dua puluhan di Amerika Utara.
Sejalan dengan pekerjaanku di TV yang telah membuatku menjadi figur publik yang menonjol, harapanku untuk merekonsiliasi homoseksualitas dengan Islam turut berevolusi menjadi kesibukan tersendiri. Aku memasuki periode introspeksi diri yang serius, bahkan juga tergoda dengan kemungkinan untuk meninggalkan Islam demi keutuhan cinta. Tujuan apa lagi yang lebih baik daripada cinta, yang mengharuskan kita mengorbankan segalagalanya?
Tapi, setiap kali aku tenggelam dalam introspeksiku yang sunyi, aku selalu kembali ke dalam realitas. Bukan karena takut. Tapi karena keinginan untuk berlaku adil—terhadap diriku sendiri. Sebuah pertanyaan menuntunku untuk berpikir secara mendalam: jika Tuhan yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa tidak menghendakiku menjadi seorang lesbian, lalu mengapa Dia masih memberiku kesempatan hidup?
Tantangan hebat untuk “menjelaskan diriku” hampir menjadi peristiwa sehari-hari setelah tahun 1998. Pada tahun itu aku mulai memandu acara QueerTelevision, sebuah acara di TV dan Internet yang mengupas budaya gay dan lesbian yang belum pernah ada sebelumnya. Tayangan itu membahas orang, bukan pornografi. Namun demikian, acara itu membuat orang Islam dan Kristen fundamentalis mengeluarkan petisi terbuka yang melawan kehadiranku di layar TV mereka. Sebenarnya aku tidak berharap apa pun. Tetapi, naifkah diriku jika berharap agar mereka tidak langsung mengutukku, melainkan memberiku kesempatan untuk berdialog dengan mereka?
Cara dialog sudah kucoba. Sebagai pencinta perbedaan, termasuk perbedaan pandangan, aku tak pernah mencampakkan surat-surat dari pihak yang mencelaku ke tong sampah. Sungguh, secara teratur aku membacakan surat-surat tersebut pada tayanganku. Misalnya: “Saya memberi tahu Anda bahwa satu-satunya Tuhan dan Tuhan yang sejati, yaitu Tuhan di dalam Injil, telah menegaskan dengan sangat jelas bahwa kaum Sodom telah mengorbankan kemanusiaan demi hawa nafsu yang kacau dan sesat. Karena perbuatan yang nista mereka dibenci Tuhan. Mereka bukan lagi manusia, dan akan segera dihukum…”
Sejumlah muslim yang menelepon dan mengirim e-mail ke QueerTelevision setuju dengan pendapat orang Kristen ini (kecuali pada bagian tentang satu-satunya Tuhan dan Tuhan yang sejati hanya milik Injil). Namun demikian, tidak seorang muslim pun yang menanggapi tantangan balikku, yang kuulang-ulang pada percakapan itu: Bagaimana mungkin Al-Quran pada saat yang sama mencela homoseksualitas dan menyatakan bahwa Allah “membuat sempurna segala sesuatu yang Dia ciptakan”? Bagaimana para pengkritikku menjelaskan fakta bahwa, menurut kitab yang mereka anut, Tuhan secara sengaja merancang kebinekaan dunia yang mencengangkan? Pertanyaan yang menyerang homoseksualitas dengan dalil-dalil Islam sungguh menguji keyakinanku. Tapi, memikirkan pertanyaan itu membuatku sadar bahwa dialog yang sehat adalah sesuatu yang mungkin dilakukan jika kita lebih sedikit peduli pada di mana posisi kita ketimbang di mana kuasa Tuhan.”
Dari kutipan di atas, sangat jelas latar belakang pemikiran Irshad Manji yaitu dari kenyataan bahwa ia seorang Lesbian karena faktor keluarga yang tidak ideal dengan sosok ayah yang menurutnya sewenang-wenang. Faktor psikologis inilah yang, mungkin, kemudian menjadikannya seorang Lesbian. Dan, menurutnya, gay/lesbian jumlahnya bukan sedikit dan itu banyak terjadi di dunia Muslim. Entah karena faktor yang sama dengan dirinya yaitu faktor keluarga ataupun faktor lain. Fakta-fakta dari kunjungan dan pengakuan dari para fans melalui email ia kemukakan secara lengkap.
Dari Muslim Refusenik Hingga Mengklaim Diri Sebagai Mujtahid
Irshad Manji pada tahap awal perkembangan pemikirannya menyebut diri sebagai “Muslim Refusenik”. Pada halaman 8 buku pertamanya ia menulis: “..aku bersiap-siap memasuki bab berikutnya dari kehidupanku sebagai seorang muslim Refusenik.
Apa yang dimaksud Muslim Refusenik? Pada buku pertamanya ada bab khusus, yaitu pada bab pertama, yang menjelaskan tentang Muslim Refusenik ini. Judul bab itu: “Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?”
Manji menyebut istilah Muslim Refusenik dan menjelaskan maknanya sebagai berikut (The Trouble with Islam, 2008, hal.8-9):
“Anda mungkin bertanya-tanya, aku ini siapa, kok berani bicara seperti ini. Aku adalah Muslim Refusenik. Itu tidak berarti aku menolak menjadi seorang muslim. Itu berarti aku menolak untuk bergabung dengan pasukan “robot” yang mudah dimobilisasi secara otomatis untuk melakukan tindakan atas nama Allah. Aku mengambil istilah ini dari kelompok refusenik permulaan: kaum Yahudi Soviet yang memperjuangkan kebebasan beragama dan kebebasan pribadi. Tuan-tuan mereka yang komunis tidak memperbolehkan mereka pindah ke Israel. Karena usaha-usaha mereka untuk meninggalkan Uni Soviet, banyak kaum refusenik harus membayar dengan kerja paksa dan kadang dengan nyawa.
Seiring waktu, penolakan mereka yang tiada henti untuk patuh pada mekanisme kontrol pikiran dan pembunuhan-karakter turut membantu mengakhiri sistem totalitarian di negara itu. Demikian halnya, aku mengangkat topi pada kaum refusenik yang lebih baru—para tentara Israel yang menentang pendudukan militer di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dalam spirit yang sama, kita pun mesti menentang penjajahan ideologis terhadap pikiran kaum muslim.”
Setelah ia menjalani diri sebagai Muslim Refusenik maka ia kemudian merasa harus beranjak dari Muslim Refusenik ke seorang mujtahid (menafsirkan al-Quran dengan cara pandang dirinya). Simak perkataannya berikut ini (The Trouble with Islam, 2008, hal.136):
“Dengan cara begitu, aku telah berhenti menjadi seorang refusenik. Beri jalan aku untuk melakukan Operasi Ijtihad..”
Manji juga memberikan beberapa alasan kenapa ia harus berijtihad:
“Bagiku, jalan ke depan sepertinya harus berusaha menjawab tiga tantangan pada saat yang sama.Pertama, merevitalisasi ekonomi dengan melibatkan potensi wanita. Kedua, memberikan tantangan pada bangsa Arab padang pasir untuk melakukan penafsiran yang beragam terhadap Islam. Ketiga, bekerja sama dengan Barat, bukan melawannya. Di masing-masing tantangan tersebut, apa yang sedang kita runtuhkan adalah semangat tribalisme yang sudah tua.”
Penafsiran Irshad Manji Mengenai Ayat Kaum Luth
Satu hal yang menarik adalah penafsiran bebas Manji terhadap ayat al-Quran mengenai azab terhadap kaum Luth. Ia mengambil jalan bertentangan dengan penafsiran arus besar. Simak apa yang ia tulis berikut ini (Allah, Liberty & Love, 2011, hal.132):
“Nah sekali lagi, patahkan keyakinan dengan ayat-ayat Al-Quran sederhana yang mendorongmu untuk tidak terlalu berlebihan dengan ayat-ayat yang tersirat. Cerita Sodom dan Gomorah—kisah Nabi Luth dalam Islam—tergolong tersirat (ambigu). Kau merasa yakin kalau surat ini mengenai homoseksual, tapi sebetulnya bisa saja mengangkat perkosaan pria “lurus” oleh pria “lurus” lainnya sebagai penggambaran atas kekuasaan dan kontrol. Tuhan menghukum kaum Nabi Luth karena memotong jalur perdagangan, menumpuk kekayaan, dan berlaku tidak hormat terhadap orang luar.
Perkosaan antara pria bisa jadi merupakan dosa disengaja (the sin of choice) untuk menimbulkan ketakutan di kalangan pengembara. Aku tidak tahu apakah aku benar. Namun demikian, menurut Al-Quran, kau pun tidak bisa yakin apakah kau benar. Nah, kalau kau masih terobsesi untuk mengutuk homoseksual, bukankah kau justru yang mempunyai agenda gay? Dan sementara kau begitu, kau tidak menjawab pertanyaan awalku: “Ada apa dengan hatimu yang sesat?”
Irshad Manji Membela Salman Rushdie Dibanding Fatwa Imam Khomeini
Hal lain yang menarik dari buku Allah, Liberty & Love adalah keberpihakan Manji pada Salman Rushdie (pengarang buku Ayat-ayat Setan / Satanic Verses) dan seakan sangat antipati pada Imam Khomeini yang telah mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi Rushdie. Hal itu terlihat jelas ketika ia merasa heran kenapa umur Salman Rushdie lebih lama daripada usia Ayatullah Khomeini yang justru sebagai orang yang memfatwakan kematian Rushdie.
Simak perkataan Manji berikut ini (Allah, Liberty & Love, 2011, hal.2):
“Sungguh luar biasa, Salman Rushdie hidup lebih lama daripada Ayatollah Khomeini! Pada 14 Februari 1986, Khomeini mengerahkan mesin pembunuh di Republik Islam Iran untuk menjanjikan kematian Rushdie, sang pengarang The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan). Namun, novelis ini melawan ulama paling terkenal di dunia itu”.
Itulah butir-butir penting yang dapat ditelusuri dari buku Irshad Manji. Untuk penilaian diserahkan sepenuhnya pada pembaca.**[harjasaputra]
Terbawa rasa penasaran seperti apa isi buku Irshad Manji yang sempat menghebohkan, terutama setelah adanya penolakan dan upaya pembubaran bedah buku dari pihak FPI. Mencari-cari dan akhirnya ketemu buku utuh Allah, Liberty & Love: Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan. Buku ini merupakan bukunya yang kedua diterjemahkan dari buku asli berjudul Allah, Liberty and Love: the Courage to Reconcile Faith and Freedom terbitan Random House, Canada, 2011. Buku pertamanya berjudul “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini (terjemahan dari The Trouble with Islam)”.Buku Allah, Liberty & Love ini berisi 7 bab setebal 349 halaman. Lebih banyak berisi kisah-kisah pergulatan Manji setelah terbit buku pertama, terutama dalam menyuarakan faham kebebasan (liberalisme) di berbagai belahan dunia. 80 persen isinya adalah cerita, surel (email) dari para pengkritik maupun pendukung gerakannya.
Jika Anda ingin memahami latar belakang pemikiran Irshad Manji dari buku ini tidak akan menemukan jawaban yang memuaskan.
Pertama, buku ini bukan buku serius berisi kajian mendalam pemikiran dirinya dari aspek filosofis maupun kajian literatur seperti buku-buku daras filsafat atau sejenisnya. Buku ini lebih banyak menceritakan berbagai hal yang ia temui dari kenyataan-kenyataan mengenai banyak hal: dukungan, hujatan terhadap dirinya, kenyataan diskriminasi di dunia Islam dan di dunia Barat, serta banyak lagi.
Kedua, gaya penulisan buku ini berbeda dari buku teoritis, hal ini lebih karena latar belakang Irshad Manji sebagai jurnalis pada sebuah acara di QueerTelevision New York, sebuah acara di TV dan Internet yang mengupas budaya gay dan lesbian yang belum pernah ada sebelumnya. Pekerjaan ini pada gilirannya sangat mewarnai gaya penulisan Manji.
Ketiga, untuk memahami bagaimana metodologi kajian dari pemikiran Irshad Manji yang ia gunakan, sayangnya tidak dituliskan secara detail dalam dua bukunya. Padahal ini adalah aspek yang sangat penting. Manji lebih tertarik untuk menghantam dan menonjolkan perbedaan cara pandang tanpa membangun sebuah metodologi berpikir yang tersusun secara ilmiah, sehingga bisa dipelajari lebih lanjut. Tapi, mungkin untuk sebagian banyak pembaca, faktor inilah yang justru menyebabkan buku ini berbeda dari buku-buku lain. Karena dikemas seperti novel. Bukan seperti buku teori yang kaku.
Dalam penelusuran saya terhadap dua buku Manji, buku pertama (The Trouble with Islam) lebih tersusun secara urut mengenai sejarah hidup dan latar belakang pemikirannya dibanding dengan buku Allah, Liberty& Love, sehingga dapat lebih mudah memahami mengenai alasan kenapa ia memposisikan diri sebagai pembela hak-hak kaum gay/lesbian sembari membombardir doktrin-doktrin keagamaan yang ia anggap bertentangan dengan nilai yang ia anut.
IM Menyebut Dirinya Sebagai Lesbian?
“…Fakta bahwa aku seorang lesbian yang menggugat penafsiran harfiah” (hal.31).
Pernyataan itu dilontarkan Manji dalam menanggapi email dari seorang pengkritik bernama Sidique, yang menggangap Manji sebagai duri dalam daging bagi umat Islam.
Pernyataan yang sangat jelas mengenai Irshad Manji sebagai seorang lesbian justru sangat banyak di buku sebelumnya, bahkan lengkap dengan sejarah bagaimana ia menjalin kasih dengan sesama jenis hingga kemudian memutuskan untuk mengambil jalan membela hak-hak kaum gay/lesbi. Simak tulisan Manji berikut ini (The Trouble with Islam, 2008, hal.26-27):
“Pertanyaan pertama adalah, “Bagaimana Anda bisa membuat Islam mampu menerima homoseksualitas?”Secara terbuka, kunyatakan diriku sebagai seorang lesbian. Aku memilih untuk “mengakuinya kepada dunia luar”. Karena, setelah menjadi dewasa dalam rumah tangga yang penuh penderitaan, di bawah kekuasaan Ayah yang sewenang-wenang, aku tidak akan menentang cinta suka-sama-suka yang menawarkan kegembiraan sebagai orang dewasa. Aku bertemu kekasih pertamaku pada usia dua puluhan. Beberapa minggu kemudian, aku menceritakan hubunganku dengannya kepada Ibu. Dia merespons dengan bijak, seperti biasanya. Sehingga, pertanyaan apakah aku bisa menjadi seorang muslim dan seorang lesbian pada saat yang bersamaan hampir tidak menggangguku sama sekali. Yang itu adalah agama. Yang ini adalah kebahagiaan. Aku tahu mana yang lebih kubutuhkan. Sembari mempelajari Islam, aku terus mempelajari seni mempertahankan hubungan dengan perempuan (yang merupakan hal yang lain lagi), memproduksi tayangan TV, dan secara umum menjalani hidup yang penuh pilihan bagi seorang yang berusia dua puluhan di Amerika Utara.
Sejalan dengan pekerjaanku di TV yang telah membuatku menjadi figur publik yang menonjol, harapanku untuk merekonsiliasi homoseksualitas dengan Islam turut berevolusi menjadi kesibukan tersendiri. Aku memasuki periode introspeksi diri yang serius, bahkan juga tergoda dengan kemungkinan untuk meninggalkan Islam demi keutuhan cinta. Tujuan apa lagi yang lebih baik daripada cinta, yang mengharuskan kita mengorbankan segalagalanya?
Tapi, setiap kali aku tenggelam dalam introspeksiku yang sunyi, aku selalu kembali ke dalam realitas. Bukan karena takut. Tapi karena keinginan untuk berlaku adil—terhadap diriku sendiri. Sebuah pertanyaan menuntunku untuk berpikir secara mendalam: jika Tuhan yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa tidak menghendakiku menjadi seorang lesbian, lalu mengapa Dia masih memberiku kesempatan hidup?
Tantangan hebat untuk “menjelaskan diriku” hampir menjadi peristiwa sehari-hari setelah tahun 1998. Pada tahun itu aku mulai memandu acara QueerTelevision, sebuah acara di TV dan Internet yang mengupas budaya gay dan lesbian yang belum pernah ada sebelumnya. Tayangan itu membahas orang, bukan pornografi. Namun demikian, acara itu membuat orang Islam dan Kristen fundamentalis mengeluarkan petisi terbuka yang melawan kehadiranku di layar TV mereka. Sebenarnya aku tidak berharap apa pun. Tetapi, naifkah diriku jika berharap agar mereka tidak langsung mengutukku, melainkan memberiku kesempatan untuk berdialog dengan mereka?
Cara dialog sudah kucoba. Sebagai pencinta perbedaan, termasuk perbedaan pandangan, aku tak pernah mencampakkan surat-surat dari pihak yang mencelaku ke tong sampah. Sungguh, secara teratur aku membacakan surat-surat tersebut pada tayanganku. Misalnya: “Saya memberi tahu Anda bahwa satu-satunya Tuhan dan Tuhan yang sejati, yaitu Tuhan di dalam Injil, telah menegaskan dengan sangat jelas bahwa kaum Sodom telah mengorbankan kemanusiaan demi hawa nafsu yang kacau dan sesat. Karena perbuatan yang nista mereka dibenci Tuhan. Mereka bukan lagi manusia, dan akan segera dihukum…”
Sejumlah muslim yang menelepon dan mengirim e-mail ke QueerTelevision setuju dengan pendapat orang Kristen ini (kecuali pada bagian tentang satu-satunya Tuhan dan Tuhan yang sejati hanya milik Injil). Namun demikian, tidak seorang muslim pun yang menanggapi tantangan balikku, yang kuulang-ulang pada percakapan itu: Bagaimana mungkin Al-Quran pada saat yang sama mencela homoseksualitas dan menyatakan bahwa Allah “membuat sempurna segala sesuatu yang Dia ciptakan”? Bagaimana para pengkritikku menjelaskan fakta bahwa, menurut kitab yang mereka anut, Tuhan secara sengaja merancang kebinekaan dunia yang mencengangkan? Pertanyaan yang menyerang homoseksualitas dengan dalil-dalil Islam sungguh menguji keyakinanku. Tapi, memikirkan pertanyaan itu membuatku sadar bahwa dialog yang sehat adalah sesuatu yang mungkin dilakukan jika kita lebih sedikit peduli pada di mana posisi kita ketimbang di mana kuasa Tuhan.”
Dari kutipan di atas, sangat jelas latar belakang pemikiran Irshad Manji yaitu dari kenyataan bahwa ia seorang Lesbian karena faktor keluarga yang tidak ideal dengan sosok ayah yang menurutnya sewenang-wenang. Faktor psikologis inilah yang, mungkin, kemudian menjadikannya seorang Lesbian. Dan, menurutnya, gay/lesbian jumlahnya bukan sedikit dan itu banyak terjadi di dunia Muslim. Entah karena faktor yang sama dengan dirinya yaitu faktor keluarga ataupun faktor lain. Fakta-fakta dari kunjungan dan pengakuan dari para fans melalui email ia kemukakan secara lengkap.
Dari Muslim Refusenik Hingga Mengklaim Diri Sebagai Mujtahid
Irshad Manji pada tahap awal perkembangan pemikirannya menyebut diri sebagai “Muslim Refusenik”. Pada halaman 8 buku pertamanya ia menulis: “..aku bersiap-siap memasuki bab berikutnya dari kehidupanku sebagai seorang muslim Refusenik.
Apa yang dimaksud Muslim Refusenik? Pada buku pertamanya ada bab khusus, yaitu pada bab pertama, yang menjelaskan tentang Muslim Refusenik ini. Judul bab itu: “Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?”
Manji menyebut istilah Muslim Refusenik dan menjelaskan maknanya sebagai berikut (The Trouble with Islam, 2008, hal.8-9):
“Anda mungkin bertanya-tanya, aku ini siapa, kok berani bicara seperti ini. Aku adalah Muslim Refusenik. Itu tidak berarti aku menolak menjadi seorang muslim. Itu berarti aku menolak untuk bergabung dengan pasukan “robot” yang mudah dimobilisasi secara otomatis untuk melakukan tindakan atas nama Allah. Aku mengambil istilah ini dari kelompok refusenik permulaan: kaum Yahudi Soviet yang memperjuangkan kebebasan beragama dan kebebasan pribadi. Tuan-tuan mereka yang komunis tidak memperbolehkan mereka pindah ke Israel. Karena usaha-usaha mereka untuk meninggalkan Uni Soviet, banyak kaum refusenik harus membayar dengan kerja paksa dan kadang dengan nyawa.
Seiring waktu, penolakan mereka yang tiada henti untuk patuh pada mekanisme kontrol pikiran dan pembunuhan-karakter turut membantu mengakhiri sistem totalitarian di negara itu. Demikian halnya, aku mengangkat topi pada kaum refusenik yang lebih baru—para tentara Israel yang menentang pendudukan militer di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dalam spirit yang sama, kita pun mesti menentang penjajahan ideologis terhadap pikiran kaum muslim.”
Setelah ia menjalani diri sebagai Muslim Refusenik maka ia kemudian merasa harus beranjak dari Muslim Refusenik ke seorang mujtahid (menafsirkan al-Quran dengan cara pandang dirinya). Simak perkataannya berikut ini (The Trouble with Islam, 2008, hal.136):
“Dengan cara begitu, aku telah berhenti menjadi seorang refusenik. Beri jalan aku untuk melakukan Operasi Ijtihad..”
Manji juga memberikan beberapa alasan kenapa ia harus berijtihad:
“Bagiku, jalan ke depan sepertinya harus berusaha menjawab tiga tantangan pada saat yang sama.Pertama, merevitalisasi ekonomi dengan melibatkan potensi wanita. Kedua, memberikan tantangan pada bangsa Arab padang pasir untuk melakukan penafsiran yang beragam terhadap Islam. Ketiga, bekerja sama dengan Barat, bukan melawannya. Di masing-masing tantangan tersebut, apa yang sedang kita runtuhkan adalah semangat tribalisme yang sudah tua.”
Penafsiran Irshad Manji Mengenai Ayat Kaum Luth
Satu hal yang menarik adalah penafsiran bebas Manji terhadap ayat al-Quran mengenai azab terhadap kaum Luth. Ia mengambil jalan bertentangan dengan penafsiran arus besar. Simak apa yang ia tulis berikut ini (Allah, Liberty & Love, 2011, hal.132):
“Nah sekali lagi, patahkan keyakinan dengan ayat-ayat Al-Quran sederhana yang mendorongmu untuk tidak terlalu berlebihan dengan ayat-ayat yang tersirat. Cerita Sodom dan Gomorah—kisah Nabi Luth dalam Islam—tergolong tersirat (ambigu). Kau merasa yakin kalau surat ini mengenai homoseksual, tapi sebetulnya bisa saja mengangkat perkosaan pria “lurus” oleh pria “lurus” lainnya sebagai penggambaran atas kekuasaan dan kontrol. Tuhan menghukum kaum Nabi Luth karena memotong jalur perdagangan, menumpuk kekayaan, dan berlaku tidak hormat terhadap orang luar.
Perkosaan antara pria bisa jadi merupakan dosa disengaja (the sin of choice) untuk menimbulkan ketakutan di kalangan pengembara. Aku tidak tahu apakah aku benar. Namun demikian, menurut Al-Quran, kau pun tidak bisa yakin apakah kau benar. Nah, kalau kau masih terobsesi untuk mengutuk homoseksual, bukankah kau justru yang mempunyai agenda gay? Dan sementara kau begitu, kau tidak menjawab pertanyaan awalku: “Ada apa dengan hatimu yang sesat?”
Irshad Manji Membela Salman Rushdie Dibanding Fatwa Imam Khomeini
Hal lain yang menarik dari buku Allah, Liberty & Love adalah keberpihakan Manji pada Salman Rushdie (pengarang buku Ayat-ayat Setan / Satanic Verses) dan seakan sangat antipati pada Imam Khomeini yang telah mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi Rushdie. Hal itu terlihat jelas ketika ia merasa heran kenapa umur Salman Rushdie lebih lama daripada usia Ayatullah Khomeini yang justru sebagai orang yang memfatwakan kematian Rushdie.
Simak perkataan Manji berikut ini (Allah, Liberty & Love, 2011, hal.2):
“Sungguh luar biasa, Salman Rushdie hidup lebih lama daripada Ayatollah Khomeini! Pada 14 Februari 1986, Khomeini mengerahkan mesin pembunuh di Republik Islam Iran untuk menjanjikan kematian Rushdie, sang pengarang The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan). Namun, novelis ini melawan ulama paling terkenal di dunia itu”.
Itulah butir-butir penting yang dapat ditelusuri dari buku Irshad Manji. Untuk penilaian diserahkan sepenuhnya pada pembaca.**[harjasaputra]
Rabu, 20 April 2016
Sunan Nyamplungan dan Sejarah Karimun Jawa
Nama Karimunjawa menurut rakyat setempat tidak terlepas dari sosok Sunan Nyamplung yang bernama asli Amir Hasan. Dia adalah putra Sunan Muria yang sejak kecil agak dimanjakan oleh ibundanya Dewi Sujinah, sehingga perilakunya cenderung nakal. Amir Hasan dititipkan kepada pamannya, Sunan Kudus, dengan harapan perilakunya berubah dan itu menjadi kenyataan karena kemudian ia menjadi sosok pemuda yang sangat taat.
Sunan Muria yang sangat bangga melihat perkembangan putranya itu kemudian memerintahkannya pergi ke salah satu pulau yang terlihat kremun-kremun dari puncak Gunung Muria. Disertai dua orang abdi, Amir Hasan berangkat dan diberi bekal berupa dua buah biji Nyamplung untuk ditanam di pulau tersebut. Di samping itu ia juga membawa Mustaka Masjid (sampai saat ini masih berada di kompleks pemakaman Sunan Nyamplung).
Pulau yang terlihat kremun-kremun dari daratan Jawa itu akhirnya menjadi tempat tinggal Amir Hasan dan pohon Nyamplung yang ditanamnya tumbuh subur berkembang biak hingga mengitari pulau. Sampai sekarang masyarakat menyebut Amir Hasan sebagai "Sunan Nyamplungan".
Tapi saat kepergian Amir Hasan ke pulau itu rupanya tidak dengan sepengetahuan ibunya. Mengetahui anaknya tidak berada di rumah, Sang Ibu terkejut dan segera bergegas menyusulnya ke pantai. Maksudnya hanya ingin memberi tambahan bekal. Sesuai kesukaan anaknya, Nyai Sunan Muria membawakan pecel lele dan siput yang telah dimasak.
Namun, ketika ia sampai di pantai, sang anak telah berangkat bersama dua pengiringnya. Dengan rasa kecewa akhirnya bungkusan pecel lele dan bungkusan siput dibuang ke laut. Atas kehendak Tuhan, bungkusan itu terbawa ombak dan mengikuti perjalanan Amir Hasan sampai ke Karimunjawa. Hal inilah yang konon kemudian mengakibatkan ikan-ikan lele yang ada di Karimunjawa tidak memiliki patil. Areal ini sekarang dikenal dengan nama Legon Lele, yaitu kawasan di bagian timur Pulau Karimunjawa. Demikian pula, konon, sampai sekarang siput yang hidup di Legon Lele juga memiliki ciri khas, yaitu punggungnya belong.
Ular Bermata Buta
Diriwayatkan pula ketika Amir Hasan sampai di daratan Karimunjawa, ia mulai mencari tempat yang cocok untuk menyebarluaskan agama Islam. Tiba-tiba seekor ular menghadangnya. Ular itu bertubuh pendek, berwarna hitam dan sangat berbisa. Ular itu berusaha menggigit Amir Hamzah tetapi tidak mempan. Namun Amir Hamzah sangat marah dan mengutuk ular tersebut menjadi buta. Sampai sekarang jenis ular yang dikenal dengan nama 'Ular Edor' ini, matanya buta dan umumnya tidak mampu untuk bergerak di siang hari.
Konon, kayu yang digunakan Amir Hamzah mengutuk Ular Edor itu ialah Kayu Setigi. Maka tak heran jika Kayu Setigi ini kemudian dipercaya masyarakat Karimunjawa dapat menyerap bisa dari semua binatang, termasuk ular.
Kayu Dewa dan Kalimosodo
Makam Sunan Nyamplungan terletak di Puncak Gunung Karimunjawa sebelah utara. Di pintu gerbang pemakaman itu terdapat dua buah pohon besar, Masyarakat setempat menyebutnya sebagai "Kayu Dewa".
Menurut kepercayaan masyarakat di sana sampai sekarang, kayu Dewadaru ini mempunyai khasiat dan bahkan dikeramatkan. Konon, barang siapa menyimpan kayu tersebut di rumah, akan terhindar dari niat orang mencuri dan orang bermaksud jahat lainnya.
Berat jenis Kayu Dewadaru dan Kayu Segiti lebih besar dari air, sehingga jika diletakkan di air kayu tersebut akan tenggelam.
Sedangkan Kayu Kalimosodo, konon dapat digunakan untuk menghalau lelembut atau roh-roh jahat yang mengganggu manusia. Biasanya, kayu ini diisi mantra-mantra oleh "orang-orang pintar" di sana sesuai keinginan pemilik kayu.
Sunan Muria yang sangat bangga melihat perkembangan putranya itu kemudian memerintahkannya pergi ke salah satu pulau yang terlihat kremun-kremun dari puncak Gunung Muria. Disertai dua orang abdi, Amir Hasan berangkat dan diberi bekal berupa dua buah biji Nyamplung untuk ditanam di pulau tersebut. Di samping itu ia juga membawa Mustaka Masjid (sampai saat ini masih berada di kompleks pemakaman Sunan Nyamplung).
Pulau yang terlihat kremun-kremun dari daratan Jawa itu akhirnya menjadi tempat tinggal Amir Hasan dan pohon Nyamplung yang ditanamnya tumbuh subur berkembang biak hingga mengitari pulau. Sampai sekarang masyarakat menyebut Amir Hasan sebagai "Sunan Nyamplungan".
Tapi saat kepergian Amir Hasan ke pulau itu rupanya tidak dengan sepengetahuan ibunya. Mengetahui anaknya tidak berada di rumah, Sang Ibu terkejut dan segera bergegas menyusulnya ke pantai. Maksudnya hanya ingin memberi tambahan bekal. Sesuai kesukaan anaknya, Nyai Sunan Muria membawakan pecel lele dan siput yang telah dimasak.
Namun, ketika ia sampai di pantai, sang anak telah berangkat bersama dua pengiringnya. Dengan rasa kecewa akhirnya bungkusan pecel lele dan bungkusan siput dibuang ke laut. Atas kehendak Tuhan, bungkusan itu terbawa ombak dan mengikuti perjalanan Amir Hasan sampai ke Karimunjawa. Hal inilah yang konon kemudian mengakibatkan ikan-ikan lele yang ada di Karimunjawa tidak memiliki patil. Areal ini sekarang dikenal dengan nama Legon Lele, yaitu kawasan di bagian timur Pulau Karimunjawa. Demikian pula, konon, sampai sekarang siput yang hidup di Legon Lele juga memiliki ciri khas, yaitu punggungnya belong.
Ular Bermata Buta
Diriwayatkan pula ketika Amir Hasan sampai di daratan Karimunjawa, ia mulai mencari tempat yang cocok untuk menyebarluaskan agama Islam. Tiba-tiba seekor ular menghadangnya. Ular itu bertubuh pendek, berwarna hitam dan sangat berbisa. Ular itu berusaha menggigit Amir Hamzah tetapi tidak mempan. Namun Amir Hamzah sangat marah dan mengutuk ular tersebut menjadi buta. Sampai sekarang jenis ular yang dikenal dengan nama 'Ular Edor' ini, matanya buta dan umumnya tidak mampu untuk bergerak di siang hari.
Konon, kayu yang digunakan Amir Hamzah mengutuk Ular Edor itu ialah Kayu Setigi. Maka tak heran jika Kayu Setigi ini kemudian dipercaya masyarakat Karimunjawa dapat menyerap bisa dari semua binatang, termasuk ular.
Kayu Dewa dan Kalimosodo
Makam Sunan Nyamplungan terletak di Puncak Gunung Karimunjawa sebelah utara. Di pintu gerbang pemakaman itu terdapat dua buah pohon besar, Masyarakat setempat menyebutnya sebagai "Kayu Dewa".
Menurut kepercayaan masyarakat di sana sampai sekarang, kayu Dewadaru ini mempunyai khasiat dan bahkan dikeramatkan. Konon, barang siapa menyimpan kayu tersebut di rumah, akan terhindar dari niat orang mencuri dan orang bermaksud jahat lainnya.
Berat jenis Kayu Dewadaru dan Kayu Segiti lebih besar dari air, sehingga jika diletakkan di air kayu tersebut akan tenggelam.
Sedangkan Kayu Kalimosodo, konon dapat digunakan untuk menghalau lelembut atau roh-roh jahat yang mengganggu manusia. Biasanya, kayu ini diisi mantra-mantra oleh "orang-orang pintar" di sana sesuai keinginan pemilik kayu.
Kamis, 07 April 2016
GUS DUR & 'MATA' ALLAH : Rahasia Gus Dur Memandang Segala Sesuatu
Unknown
23.07.00
Amaliyah Nu
,
Artikel
,
Gus Dur
,
Hikmah
,
Pengetahuan
,
Tokoh
Tidak ada komentar
:
Dialog ini tak sengaja kami
temukan dari salah satu postingan anggota grup facebook Dagelan Santri
Indonesia (DASI). Karena itu merupakan dialog yang bias memberi banyak manfaat
da hikmah bagi para pembaca, maka kami memutuskan untuk menulisnya di blog ini.
Tanpa didampingi siapa pun, Gus
Dur dan Mughni (Narasumber) bertemu di warung nasi depan kampus mughni. Pakaian
batik dan sarung membungkus tubuhnya, peci yang miring serta kacamata tebalnya
melengkapi kediriannya. Dialog yang bagi Mughni aneh pun terjadi. Aneh karena
perbincangan mereka kesana kemari, tak jelas arahnya.
Gus Dur :
"Sebenar apa pun tingkahmu, sebaik apapun prilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.!"
"Sebenar apa pun tingkahmu, sebaik apapun prilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.!"
Mughni :
"Iya, Gus. Tapi.."
"Iya, Gus. Tapi.."
Gus Dur :
"Bagaimana tidak repot, hidupmu terlalu banyak 'tapi'.!"
"Bagaimana tidak repot, hidupmu terlalu banyak 'tapi'.!"
Mughni :
"Hehehehe.."
"Hehehehe.."
Gus Dur :
"Apa kamu kenal Wa Totoh? Maksud saya KH. Totoh Ghozali."
"Apa kamu kenal Wa Totoh? Maksud saya KH. Totoh Ghozali."
Mughni :
"Disebut kenal ya tidak, tapi saya sering mendengar ceramah-ceramahnya di Radio."
"Disebut kenal ya tidak, tapi saya sering mendengar ceramah-ceramahnya di Radio."
Gus Dur :
"Belajarlah kamu kepadanya, bagaimana memurnikan tauhid masyarakat. Dia menggunakan bahasa lokal sebagai senjatanya, memakai humor cerdas tanpa hina dan caci."
"Belajarlah kamu kepadanya, bagaimana memurnikan tauhid masyarakat. Dia menggunakan bahasa lokal sebagai senjatanya, memakai humor cerdas tanpa hina dan caci."
Mughni :
"Baik, Gus, kalau itu perintah Panjenengan."
"Baik, Gus, kalau itu perintah Panjenengan."
Gus Dur :
"Ini bukan perintah, ini memang sesuatu yang seharusnya kamu lakukan sebagai Da'I."
"Ini bukan perintah, ini memang sesuatu yang seharusnya kamu lakukan sebagai Da'I."
Mughni :
"Laksanakan."
"Laksanakan."
Gus Dur :
"Kamu suka menulis?"
"Kamu suka menulis?"
Mughni :
"Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya."
"Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya."
Gus Dur :
"Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus."
"Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus."
Mughni :
"Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai wanita?"
"Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai wanita?"
Gus Dur :
"Ya itu tadi, karya sastramu buruk sekali."
"Ya itu tadi, karya sastramu buruk sekali."
Mughni :
"Hmmmmm.."
"Hmmmmm.."
Gus Dur :
"Kamu pernah di pesantren?"
"Kamu pernah di pesantren?"
Mughni :
"Pernah, Gus."
"Pernah, Gus."
Gus Dur :
"Dimana?"
"Dimana?"
Mughni :
"Di Al-Falah sama di Al-Musaddadiyah."
"Di Al-Falah sama di Al-Musaddadiyah."
Gus Dur :
"Rupanya kamu Santri Kyai Syahid sama Kyai Musaddad."
"Rupanya kamu Santri Kyai Syahid sama Kyai Musaddad."
Mughni :
"Iya."
"Iya."
Gus Dur :
"Saya juga sering bersilaturahmi ke beliau-beliau itu. Mereka salah satu penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama'ah."
"Saya juga sering bersilaturahmi ke beliau-beliau itu. Mereka salah satu penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama'ah."
Mughni :
"Ketika jadi Santri, saya nakal sekali. Saya merasa malu kepada beliau-beliau itu, Gus."
"Ketika jadi Santri, saya nakal sekali. Saya merasa malu kepada beliau-beliau itu, Gus."
Gus Dur :
"Saya beritahu kamu, kebaikan seorang Santri tidak dilihat ketika dia berada di Pondok, melainkan setelah dia menjadi alumni. Kamu tinggal buktikan hari ini, bahwa kamu adalah santri yang baik."
"Saya beritahu kamu, kebaikan seorang Santri tidak dilihat ketika dia berada di Pondok, melainkan setelah dia menjadi alumni. Kamu tinggal buktikan hari ini, bahwa kamu adalah santri yang baik."
Mughni :
"Terima kasih, Gus."
"Terima kasih, Gus."
Gus Dur :
"Dunia tanpa pesantren, bagi saya adalah siksa. Bersyukurlah karena kamu pernah menjadi bagian di dalamnya."
"Dunia tanpa pesantren, bagi saya adalah siksa. Bersyukurlah karena kamu pernah menjadi bagian di dalamnya."
Mughni :
"Iya, Gus."
"Iya, Gus."
Gus Dur :
"Kamu mau tau rahasia hidup saya dalam memandang segala sesuatunya?"
"Kamu mau tau rahasia hidup saya dalam memandang segala sesuatunya?"
Mughni :
"Tentu, Gus, saya ingin tau rahasia panjenengan."
"Tentu, Gus, saya ingin tau rahasia panjenengan."
Gus Dur :
"Dalam memandang segala sesuatu, gunakanlah 'Mata' Allah."
"Dalam memandang segala sesuatu, gunakanlah 'Mata' Allah."
Mughni :
"Waduh. Bagaimana contohnya?"
"Waduh. Bagaimana contohnya?"
Gus Dur :
"Contohnya begini. Ketika saya didatangi banyak orang yang meminta perlindungan, apakah orang itu benar atau salah, saya terima semuanya dengan lapang dada. Karena apa? Saya selalu yakin, Allah lah yang menggerakan hati mereka untuk datang kepada saya. Jika saya tolak karena mereka bersalah, itu sama saja saya menolak kehendak Allah. Perlindungan saya kepada orang-orang yang disudutkan karena kesalahannya itu, bukanlah bentuk bahwa saya melindungi kesalahannya, tapi saya melindungi kemanusiaannya."
"Contohnya begini. Ketika saya didatangi banyak orang yang meminta perlindungan, apakah orang itu benar atau salah, saya terima semuanya dengan lapang dada. Karena apa? Saya selalu yakin, Allah lah yang menggerakan hati mereka untuk datang kepada saya. Jika saya tolak karena mereka bersalah, itu sama saja saya menolak kehendak Allah. Perlindungan saya kepada orang-orang yang disudutkan karena kesalahannya itu, bukanlah bentuk bahwa saya melindungi kesalahannya, tapi saya melindungi kemanusiaannya."
Mughni :
"Duh.."
"Duh.."
Gus Dur :
"Lebih jauhnya begini. Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca al-Qur'an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi al-Qur'an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda Agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah."
"Lebih jauhnya begini. Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca al-Qur'an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi al-Qur'an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda Agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah."
Mughni :
"Ya Allah.."
"Ya Allah.."
Adaptasi dari tausiyah Guru Niam
Muiz (Haul Gus Dur yang ke-6)
Pelajaran yang bias kita ambil
dari dialog tersebut adalah :
·
Sebenar apapun tingkahmu, sebaik
apapun prilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan
terlalu diambil pusing. Terus saja jalan!
·
Jangan banyak Tapi-tapian karena
itu dapat mempersulit diri kita sendiri.
·
Jika kamu ingin mengatahui apakah
seseorang pernah dilukai hatinya atau tidak, lihatlah tulisannya. Seorang yang
sastra atau tulisannya jelek berarti ia belum pernah dilukai wanita makanya ia
kurang inspirasi. So , jika kalian ingin bisa nulis mintalah perempuan untuk
melukaimu.
·
kebaikan seorang santri tidak
dilihat ketika dia berada di Pondok, melainkan setelah dia menjadi alumni. Kita
tinggal membuktikannya.
·
Janganlah kalian membenci
seseorang karena dia tidak bisa membaca al-Qur'an, karena orang itu yang
berbeda Agama, ataupun karena mereka melanggar moral. Itu artinya kamu
mempertuhankan Al Qur’an, Agama dan Moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang
lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima
semua makhluk. Karena begitulah Allah.
Wallahu a’lam bishowab…
Selasa, 05 April 2016
Bersyukur Kunci Kebahagiaan
Allah tidak pernah
terlambat dalam memberikan nikmat yang diperlukan oleh manusia dalam setiap
detik. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak merasa ataupun lupa bahwa setiap
detiknya ia senantiasa menerima pemberian dari Allah SWT. Setiap orang, apapun
jabatannya dan bagaimanapun kondisinya, pasti drinya selalu dipenuhi akan
nikmat Allah.
Hanya saja, kebanyakan
manusia hanya mampu merasa mendapatkan nikmat jika ia memperoleh apa yang ia
inginkan dan ia butuhkan. Mereka menganggap bahwa pemberian Allah kepada
manusia hanyalah kadang-kadang saja, yakni misalnya ketika manusia mendapatkan
pekerjaan yang sedang ia inginkan, mendapat hadiah kejutan berupa uang,
mendapatkan usahanya laris secara mendadak dan hal-hal lain yang dianggapnya bahwa
itu semua hanyalah terjadi kadang-kadang saja.
Padahal Allah telah
berjanji bahwa Dia akan menambahkan nikmat kepada umatnya yang mau bersyukur.
Tapi mengapa kita sulit untuk bersyukur kepada Allah. Apakah kita belum
mengimani Al-qur’an?
Pada hakikatnya kebahagiaan itu sangat
sederhana, bisa kita dapatkan saat ini juga dan di mana saja kita berada selama
kita mau mensyukuri apa yang ada.
Sabtu, 02 April 2016
Riwayat Situasi Di Indonesia Dari Masa ke Masa
Sekedar untuk
pengetahuan bagi para pembaca mengenai sejarah dan riwayat situasi dan keadaan
di Negara kita Indonesia. Barang kali ada diantara kita yang belum
mengetahuinya. Karena kita sebagai umat islam seyogya-nya paham tentang Negara
kita sendiri, karena siapa yang paham pasti ia cinta. Dan cinta negara
merupakan salah satu dari 77 cabang iman yang harus kita imani.
Gambaran situasi
Indonesia ini dikutip dari buku karya KH Hudun Abdul Ghoni mantingan, Jepara.
Zaman Ir.Soekarno-Hatta ada yang mengatakan , situasi hidup sederhana
(tenang).
Zaman orde baru
Soeharto ada yang mengatakan, situasi hidup senang dan juga ada yang mengatakan
susah (tertekan).
Zaman BJ.Habibie
situasi tegang.
Zaman Gus Dur
situasi bingung.
Zaman Reformasi SBY ada
yang mengatakan demokrasi kebablasan.
Sedangkan untuk Zaman
sekarang yaitu zaman JOKOWI kita bisa mengamati sendiri dan menunggu apa yang akan
dilakukan jokowi. Apakah membawa kemajuan ataupun sebaliknya. Kita hanya bisa
mendoakan yang terbaik.
Sebenarnya semua
berita-berita musibah di darat, di laut, di udara di seluruh dunia tak
terkecuali negara kita Indonesia, itu adalah karena perbuatan manusia-manusia
penghuni dunia itu sendiri, kita perlu ingat, tahu dan mengerti. Terutama
apabila musibah-musibah tersebut sudah menyangkut moral dan akhlak
manusia-manusia tersebut. Kita harus lebih susah dan prihatin. Tetapi di
samping kita susah/prihatin, maka sebaiknya kita juga harus peduli kepada semua
pihak, baik itu pejabat/penguasa ataupun rakyatnya. Karena itulah mari kita
mohon keselamatan/kebahagiaan kepada Allah SWT. Rabb Al-Alamin.
Sesungguhnya ketika
banyak musibah yang menimpa semua umat manusia, kita dianjurkan melafadhkan DOA
QUNUT NAZILAH di akhir sholat-sholat maktubah, sholat jum’at dan lain
sebagainya. Menurut kesadaran dan kepedulian masing-masing, mudah-mudahan para
pembaca mau melaksanakannya. Amin.
Jumat, 01 April 2016
Sholat Sebagai Sarana Komunikasi
Sholat
merupakan tiang agama, siapapun yang meninggalkannya maka dia telah meruntuhkan
agamanya. Sebab, di dalam shalat seorang hamba membangun hubungan dan
bekomunikasi dengan Rabb-nya. Dengan demikian, sholat dapat dijadikan tanda
atau bukti nyata apakah seorang hamba mempunyai iman keislaman atau termasuk
golongan orang-orang yang kufur.
Selain
itu, sholat juga dijadikan tolok ukur apakah amal seorang muslim baik atau
tidak pada saat hari perhitungan nanti. Jika sholat seseorang baik, tentunya
amal lain dihitung sebagai amal yang baik. Sebaliknya, jika amal seseorang
buruk, amal yang lain dihitung sebagai amal buruk.
Sebagai
insan yang beriman dan berakal, tentu kita tidak ingin menjadi orang yang lalai
dan celaka karena meninggalkan ibadah sholat atau shalat kita tidak sempurna.
Karena Allah berfirman “ Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang
yang lalai terhadap shalatnya.” Maka sedapat mungkin
kita berupaya agar ibadah sholat kita diterima oleh Allah SWT.
Untuk
itu, kita harus memahami bagaimana cara ibadah sholat yang benar menurut
syariat islam. Yaitu meliputi syarat, rukun, tata cara, dan yang hukumnya
sunnah dalam beribadah sholat. Mulai dari sebelum melaksanakan sholat seperti
bersuci, berwudhu, tayamum, mandi, hingga shalat sunnah
rawatib. Wallahu a’lam..
Senin, 28 Maret 2016
Hukum Ziarah ke Kuburan Non Muslim
Ziarah merupakan hal yang sudah tidak asing lagi bagi warga nahdliyyin atau ahlussunah wal jama'ah. Dengan berziarah kita bisa memperoleh beberapa manfaat, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi mayit. Beberapa manfaat tersebut yaitu taqorrub,tawassul,mengingat kematian,memohonkan ampunan dan mendoakan si mayit. Diantara beberapa manfaat tersebut tujuan yang paling utama ialah mengingat kematian.
Dalam kitab hujjah ahlussunnah, mushonif menjelaskan tentang beberapa hukum amalan aswaja salah satunya adalah hukum berziarah kubur. Seperti yang kita ketahui, bahwa hukum ziarah kubur ke kuburan orang muslim bagi laki-laki adalah sunnah. Dan bisa sunnah, mubah, makruh maupun haram bagi kalangan wanita. Semua itu tergantung kondisinya.
Lalu bagaimana hukum berziarah kubur ke kuburan orang non muslim?
Hukum berziarah ke kuburan orang non muslim boleh-boleh saja. Karena seperti yang kita ketahui dari awal, bahwa tujuan utama berziarah adalah mengingat kematian. Jadi, asal tujuannya hanya mengingat kematian dan tidak ada makdsud untuk mendoakan, mengapa tidak? Toh , makna dari ziarah sendiri adalah mengunjungi maqbaroh.
Kita tidak perlu memperdebatkan hal-hal yang tak perlu diperdebatkan. Karena kita bukan muslim liberal dan bukan pula muslim radikal, kita harus menjadi muslim moderat (di tengah-tengah).
Wallahu a'lam..
Sabtu, 26 Maret 2016
Bosan Menjalani Hidup
Ini
merupakan kisah yang dikutip dari sebuah fanspage di facebook. Sebuah
kisah yang sangat menarik. Mari kita simak kisah di bawah ini!Seorang pria paruh baya mendatangi seorang guru ngaji, “Ustad, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”
Sang Ustad pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.”
“Tidak Ustad, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustad meneruskan. “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo.
Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng dan yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan.Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku,” demikian ujar sang Ustad.
“Tidak Ustad, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup,” pria itu menolak tawaran sang Ustad.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”
“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambilah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”
Giliran dia menjadi bingung. Setiap Ustad yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Tapi ustadz yang satu ini aneh. malah Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Ustad edan itu. Dan ia merasakan ketenangan sebagaimana yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai. Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang.Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai sekali. Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan berbisik di telinganya.
“Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sang istripun merasa aneh sekali.
“Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”
Di kantor, ia menyapa setiap orang dan bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?”
Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.
Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.”
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua.”
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi, bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum sore sebelumnya?
”Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini." Ia pun buru-buru mendatangi sang Ustad yang telah memberi racun kepadanya.
Sesampainya di rumah ustad tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.
Apa yg terjadi, melihat wajah pria itu, rupanya sang Ustad langsung mengetahui apa yang telah terjadi. Sang ustad pun berkata,
“Buang saja botol itu. Isinya air biasa kok. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kepasrahan, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan. percayalah .. Allah bersama kita."
Kemudian pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustad, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini ……
Ketika Kejujuran Tak Dihargai
Sebelum saya membahas lebih lanjut
tentang judul artikel diatas, saya akan coba menjelaskan terlebih dahulu tentang apa itu makna
kejujuran. Menurut saya, kejujuran merupakan kata sederhana yang memiliki makna
istimewa. Karena kejujuran merupakan kunci dari segalanya.
Kejujuran berasal dari kata jujur
yang berarti menyatakan sesuatu dengan sebenar-benarnya baik dalam lisan,
perbuatan, maupun hati kita layaknya iman. Karena tanpa adanya ketiga hal itu,
kita semua belum bisa dikatakan sebagai orang yang jujur.
“Wong jujur bakal mujur lan wong
jujur bakal makmur." Pepatah jawa itu harus kita tanamkan dalam diri kita dan
harus kita yakini dengan sepenuh hati. Karena orang zaman dulu lebih-lebih
orang Jawa, jika menyatakan sesuatu tidak pernah main-main ataupun kor
njeplak. Orang zaman dulu membuat pepatah dengan penuh ijtihad, khususnya
para wali.
Kejujuran adalah kunci kebenaran.
Jika kita mengawali sesuatu dengan jujur, pasti selanjutnya akan terus jujur. Namun,
jika kita mengawali sesuatu dengan kebohongan, selanjutnya pasti akan membawa
kebohongan yang lain.
Ada sebuah kisah pada zaman nabi
Muhammad SAW. Yaitu tentang seorang pemuda ahli maksiat yang mau bertaubat.
Semua hal jelek pernah dilakukan pemuda itu, mulai dari berzina, minum arak,
maling, dan perbuatan dosa lainnya.
Sebelum bertaubat, ia menemui
Rasulullah dan mengajukan sebuah persyaratan. Sebuah persyaratan yang harus
dipenuhi Rasullullah.
“Ya Rasul, aku bersedia bertaubat
dan menjadi umatmu asalkan semua kebiasaanku tidak kau larang. Dan kau hanya
boleh melarang satu hal.” kata pemuda itu.
Lalu Rasulullah menjawabnya,
“Saya tidak akan melarang sesuatu
darimu, kecuali satu hal, yaitu Jujur.”
Satu hal yang kelihatannya mudah dan tidak memberatkan pemuda itu untuk bertaubat.
Suatu hari ketika pemuda itu sudah
masuk Islam, ia ingin berzina. Sebelum berzina ia bertanya pada sahabat,
"Apakah hukumnya orang yang berzina?”
“Hukum orang yang berzina ialah dirajam 100
kali.”
Lalu pemuda itu berfikir, bagaimana
jika Rasulullah bertanya padaku tentang apa yang telah aku lakukan? Bagaimana
aku harus menjawabnya? Ia bingung dan akhirnya pun ia tidak jadi berzina karena
takut akan berbohong.
Pada hari lain pemuda itu ingin
mencuri. Ia bertanya,
“Apakah hukumnya mencuri itu? ”
“Hukum mencuri ialah dipotong
tangannya.”
Pemuda itupun berfikir kembali,
bagaimana jika Rasulullah bertanya padaku tentang apa yang telah aku lakukan?
Bagaimana aku harus menjawabnya?
Akhirnya ia tidak jadi mencuri dan
tidak pula melakukan perbuatan maksiat lain selamanya karena takut untuk berbohong pada Rasulullah. Masyaallah...
Dulu orang sangat takut berbohong
karena kejujuran sangat dihargai. Tapi sekarang hanya satu banding sejuta orang
yang mau menghargai kejujuran. Kejujuran sudah dilupakan, kejujuran telah
dibunuh oleh orang-orang yang mengikuti perkembangan zaman tanpa didasari dengan
iman. Kejujuran dikalahkan oleh uang.
Orang miskin kalah di persidangan karena hukum bisa dibeli dengan uang.
Kemenangan hanya milik orang yang memiliki kekayaan.
Bisa kita lihat beberapa kasus di Indonesia. Banyak hakim yang memasang tarif dan memperjual belikan hukum.
Padahal jelas-jelas agama kita telah memberikan ancaman dalam Al-Qur’an
terhadap hakim-hakim yang tidak jujur. Tapi ia menghiraukan Al-Qur’an. Ia
hanya mengutamakan kesenangan dunia yang bersifat fana.
Tidak hanya dibidang hukum, tapi
juga dibidang pendidikan. Anggaran pendidikan menjadi proyek para tikus-tikus kantor.
Dari tingkat bawah sampai ke tingkat yang paling atas. Guru-guru hanya menghargai nilai,
mengabaikan proses, mengabaikan kemampuan siswa. Guru tidak menilai kejujuran.
Guru hanya menilai hasil ulangan yang jelas-jelas terjadi banyak kecurangan. Mereka
itu bukan guru, mereka hanya orang-orang yang bertopeng guru yang mengajarkan
kemunafikan. Meskipun masih ada seratus banding satu guru yang sangat
mementingkan kejujuran dan kemampuan.
Itulah yang mungkin menjadi alasan
orang untuk mencontek dan mengabaikan kejujuran. Alasan orang-orang yang tidak
mempertebal tembok iman dan tidak paham makna kejujuran. Naudzubillah...
Langganan:
Postingan
(
Atom
)













