Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 20 April 2016
Sunan Nyamplungan dan Sejarah Karimun Jawa
Nama Karimunjawa menurut rakyat setempat tidak terlepas dari sosok Sunan Nyamplung yang bernama asli Amir Hasan. Dia adalah putra Sunan Muria yang sejak kecil agak dimanjakan oleh ibundanya Dewi Sujinah, sehingga perilakunya cenderung nakal. Amir Hasan dititipkan kepada pamannya, Sunan Kudus, dengan harapan perilakunya berubah dan itu menjadi kenyataan karena kemudian ia menjadi sosok pemuda yang sangat taat.
Sunan Muria yang sangat bangga melihat perkembangan putranya itu kemudian memerintahkannya pergi ke salah satu pulau yang terlihat kremun-kremun dari puncak Gunung Muria. Disertai dua orang abdi, Amir Hasan berangkat dan diberi bekal berupa dua buah biji Nyamplung untuk ditanam di pulau tersebut. Di samping itu ia juga membawa Mustaka Masjid (sampai saat ini masih berada di kompleks pemakaman Sunan Nyamplung).
Pulau yang terlihat kremun-kremun dari daratan Jawa itu akhirnya menjadi tempat tinggal Amir Hasan dan pohon Nyamplung yang ditanamnya tumbuh subur berkembang biak hingga mengitari pulau. Sampai sekarang masyarakat menyebut Amir Hasan sebagai "Sunan Nyamplungan".
Tapi saat kepergian Amir Hasan ke pulau itu rupanya tidak dengan sepengetahuan ibunya. Mengetahui anaknya tidak berada di rumah, Sang Ibu terkejut dan segera bergegas menyusulnya ke pantai. Maksudnya hanya ingin memberi tambahan bekal. Sesuai kesukaan anaknya, Nyai Sunan Muria membawakan pecel lele dan siput yang telah dimasak.
Namun, ketika ia sampai di pantai, sang anak telah berangkat bersama dua pengiringnya. Dengan rasa kecewa akhirnya bungkusan pecel lele dan bungkusan siput dibuang ke laut. Atas kehendak Tuhan, bungkusan itu terbawa ombak dan mengikuti perjalanan Amir Hasan sampai ke Karimunjawa. Hal inilah yang konon kemudian mengakibatkan ikan-ikan lele yang ada di Karimunjawa tidak memiliki patil. Areal ini sekarang dikenal dengan nama Legon Lele, yaitu kawasan di bagian timur Pulau Karimunjawa. Demikian pula, konon, sampai sekarang siput yang hidup di Legon Lele juga memiliki ciri khas, yaitu punggungnya belong.
Ular Bermata Buta
Diriwayatkan pula ketika Amir Hasan sampai di daratan Karimunjawa, ia mulai mencari tempat yang cocok untuk menyebarluaskan agama Islam. Tiba-tiba seekor ular menghadangnya. Ular itu bertubuh pendek, berwarna hitam dan sangat berbisa. Ular itu berusaha menggigit Amir Hamzah tetapi tidak mempan. Namun Amir Hamzah sangat marah dan mengutuk ular tersebut menjadi buta. Sampai sekarang jenis ular yang dikenal dengan nama 'Ular Edor' ini, matanya buta dan umumnya tidak mampu untuk bergerak di siang hari.
Konon, kayu yang digunakan Amir Hamzah mengutuk Ular Edor itu ialah Kayu Setigi. Maka tak heran jika Kayu Setigi ini kemudian dipercaya masyarakat Karimunjawa dapat menyerap bisa dari semua binatang, termasuk ular.
Kayu Dewa dan Kalimosodo
Makam Sunan Nyamplungan terletak di Puncak Gunung Karimunjawa sebelah utara. Di pintu gerbang pemakaman itu terdapat dua buah pohon besar, Masyarakat setempat menyebutnya sebagai "Kayu Dewa".
Menurut kepercayaan masyarakat di sana sampai sekarang, kayu Dewadaru ini mempunyai khasiat dan bahkan dikeramatkan. Konon, barang siapa menyimpan kayu tersebut di rumah, akan terhindar dari niat orang mencuri dan orang bermaksud jahat lainnya.
Berat jenis Kayu Dewadaru dan Kayu Segiti lebih besar dari air, sehingga jika diletakkan di air kayu tersebut akan tenggelam.
Sedangkan Kayu Kalimosodo, konon dapat digunakan untuk menghalau lelembut atau roh-roh jahat yang mengganggu manusia. Biasanya, kayu ini diisi mantra-mantra oleh "orang-orang pintar" di sana sesuai keinginan pemilik kayu.
Sunan Muria yang sangat bangga melihat perkembangan putranya itu kemudian memerintahkannya pergi ke salah satu pulau yang terlihat kremun-kremun dari puncak Gunung Muria. Disertai dua orang abdi, Amir Hasan berangkat dan diberi bekal berupa dua buah biji Nyamplung untuk ditanam di pulau tersebut. Di samping itu ia juga membawa Mustaka Masjid (sampai saat ini masih berada di kompleks pemakaman Sunan Nyamplung).
Pulau yang terlihat kremun-kremun dari daratan Jawa itu akhirnya menjadi tempat tinggal Amir Hasan dan pohon Nyamplung yang ditanamnya tumbuh subur berkembang biak hingga mengitari pulau. Sampai sekarang masyarakat menyebut Amir Hasan sebagai "Sunan Nyamplungan".
Tapi saat kepergian Amir Hasan ke pulau itu rupanya tidak dengan sepengetahuan ibunya. Mengetahui anaknya tidak berada di rumah, Sang Ibu terkejut dan segera bergegas menyusulnya ke pantai. Maksudnya hanya ingin memberi tambahan bekal. Sesuai kesukaan anaknya, Nyai Sunan Muria membawakan pecel lele dan siput yang telah dimasak.
Namun, ketika ia sampai di pantai, sang anak telah berangkat bersama dua pengiringnya. Dengan rasa kecewa akhirnya bungkusan pecel lele dan bungkusan siput dibuang ke laut. Atas kehendak Tuhan, bungkusan itu terbawa ombak dan mengikuti perjalanan Amir Hasan sampai ke Karimunjawa. Hal inilah yang konon kemudian mengakibatkan ikan-ikan lele yang ada di Karimunjawa tidak memiliki patil. Areal ini sekarang dikenal dengan nama Legon Lele, yaitu kawasan di bagian timur Pulau Karimunjawa. Demikian pula, konon, sampai sekarang siput yang hidup di Legon Lele juga memiliki ciri khas, yaitu punggungnya belong.
Ular Bermata Buta
Diriwayatkan pula ketika Amir Hasan sampai di daratan Karimunjawa, ia mulai mencari tempat yang cocok untuk menyebarluaskan agama Islam. Tiba-tiba seekor ular menghadangnya. Ular itu bertubuh pendek, berwarna hitam dan sangat berbisa. Ular itu berusaha menggigit Amir Hamzah tetapi tidak mempan. Namun Amir Hamzah sangat marah dan mengutuk ular tersebut menjadi buta. Sampai sekarang jenis ular yang dikenal dengan nama 'Ular Edor' ini, matanya buta dan umumnya tidak mampu untuk bergerak di siang hari.
Konon, kayu yang digunakan Amir Hamzah mengutuk Ular Edor itu ialah Kayu Setigi. Maka tak heran jika Kayu Setigi ini kemudian dipercaya masyarakat Karimunjawa dapat menyerap bisa dari semua binatang, termasuk ular.
Kayu Dewa dan Kalimosodo
Makam Sunan Nyamplungan terletak di Puncak Gunung Karimunjawa sebelah utara. Di pintu gerbang pemakaman itu terdapat dua buah pohon besar, Masyarakat setempat menyebutnya sebagai "Kayu Dewa".
Menurut kepercayaan masyarakat di sana sampai sekarang, kayu Dewadaru ini mempunyai khasiat dan bahkan dikeramatkan. Konon, barang siapa menyimpan kayu tersebut di rumah, akan terhindar dari niat orang mencuri dan orang bermaksud jahat lainnya.
Berat jenis Kayu Dewadaru dan Kayu Segiti lebih besar dari air, sehingga jika diletakkan di air kayu tersebut akan tenggelam.
Sedangkan Kayu Kalimosodo, konon dapat digunakan untuk menghalau lelembut atau roh-roh jahat yang mengganggu manusia. Biasanya, kayu ini diisi mantra-mantra oleh "orang-orang pintar" di sana sesuai keinginan pemilik kayu.
Kamis, 07 April 2016
GUS DUR & 'MATA' ALLAH : Rahasia Gus Dur Memandang Segala Sesuatu
Unknown
23.07.00
Amaliyah Nu
,
Artikel
,
Gus Dur
,
Hikmah
,
Pengetahuan
,
Tokoh
Tidak ada komentar
:
Dialog ini tak sengaja kami
temukan dari salah satu postingan anggota grup facebook Dagelan Santri
Indonesia (DASI). Karena itu merupakan dialog yang bias memberi banyak manfaat
da hikmah bagi para pembaca, maka kami memutuskan untuk menulisnya di blog ini.
Tanpa didampingi siapa pun, Gus
Dur dan Mughni (Narasumber) bertemu di warung nasi depan kampus mughni. Pakaian
batik dan sarung membungkus tubuhnya, peci yang miring serta kacamata tebalnya
melengkapi kediriannya. Dialog yang bagi Mughni aneh pun terjadi. Aneh karena
perbincangan mereka kesana kemari, tak jelas arahnya.
Gus Dur :
"Sebenar apa pun tingkahmu, sebaik apapun prilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.!"
"Sebenar apa pun tingkahmu, sebaik apapun prilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.!"
Mughni :
"Iya, Gus. Tapi.."
"Iya, Gus. Tapi.."
Gus Dur :
"Bagaimana tidak repot, hidupmu terlalu banyak 'tapi'.!"
"Bagaimana tidak repot, hidupmu terlalu banyak 'tapi'.!"
Mughni :
"Hehehehe.."
"Hehehehe.."
Gus Dur :
"Apa kamu kenal Wa Totoh? Maksud saya KH. Totoh Ghozali."
"Apa kamu kenal Wa Totoh? Maksud saya KH. Totoh Ghozali."
Mughni :
"Disebut kenal ya tidak, tapi saya sering mendengar ceramah-ceramahnya di Radio."
"Disebut kenal ya tidak, tapi saya sering mendengar ceramah-ceramahnya di Radio."
Gus Dur :
"Belajarlah kamu kepadanya, bagaimana memurnikan tauhid masyarakat. Dia menggunakan bahasa lokal sebagai senjatanya, memakai humor cerdas tanpa hina dan caci."
"Belajarlah kamu kepadanya, bagaimana memurnikan tauhid masyarakat. Dia menggunakan bahasa lokal sebagai senjatanya, memakai humor cerdas tanpa hina dan caci."
Mughni :
"Baik, Gus, kalau itu perintah Panjenengan."
"Baik, Gus, kalau itu perintah Panjenengan."
Gus Dur :
"Ini bukan perintah, ini memang sesuatu yang seharusnya kamu lakukan sebagai Da'I."
"Ini bukan perintah, ini memang sesuatu yang seharusnya kamu lakukan sebagai Da'I."
Mughni :
"Laksanakan."
"Laksanakan."
Gus Dur :
"Kamu suka menulis?"
"Kamu suka menulis?"
Mughni :
"Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya."
"Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya."
Gus Dur :
"Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus."
"Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus."
Mughni :
"Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai wanita?"
"Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai wanita?"
Gus Dur :
"Ya itu tadi, karya sastramu buruk sekali."
"Ya itu tadi, karya sastramu buruk sekali."
Mughni :
"Hmmmmm.."
"Hmmmmm.."
Gus Dur :
"Kamu pernah di pesantren?"
"Kamu pernah di pesantren?"
Mughni :
"Pernah, Gus."
"Pernah, Gus."
Gus Dur :
"Dimana?"
"Dimana?"
Mughni :
"Di Al-Falah sama di Al-Musaddadiyah."
"Di Al-Falah sama di Al-Musaddadiyah."
Gus Dur :
"Rupanya kamu Santri Kyai Syahid sama Kyai Musaddad."
"Rupanya kamu Santri Kyai Syahid sama Kyai Musaddad."
Mughni :
"Iya."
"Iya."
Gus Dur :
"Saya juga sering bersilaturahmi ke beliau-beliau itu. Mereka salah satu penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama'ah."
"Saya juga sering bersilaturahmi ke beliau-beliau itu. Mereka salah satu penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama'ah."
Mughni :
"Ketika jadi Santri, saya nakal sekali. Saya merasa malu kepada beliau-beliau itu, Gus."
"Ketika jadi Santri, saya nakal sekali. Saya merasa malu kepada beliau-beliau itu, Gus."
Gus Dur :
"Saya beritahu kamu, kebaikan seorang Santri tidak dilihat ketika dia berada di Pondok, melainkan setelah dia menjadi alumni. Kamu tinggal buktikan hari ini, bahwa kamu adalah santri yang baik."
"Saya beritahu kamu, kebaikan seorang Santri tidak dilihat ketika dia berada di Pondok, melainkan setelah dia menjadi alumni. Kamu tinggal buktikan hari ini, bahwa kamu adalah santri yang baik."
Mughni :
"Terima kasih, Gus."
"Terima kasih, Gus."
Gus Dur :
"Dunia tanpa pesantren, bagi saya adalah siksa. Bersyukurlah karena kamu pernah menjadi bagian di dalamnya."
"Dunia tanpa pesantren, bagi saya adalah siksa. Bersyukurlah karena kamu pernah menjadi bagian di dalamnya."
Mughni :
"Iya, Gus."
"Iya, Gus."
Gus Dur :
"Kamu mau tau rahasia hidup saya dalam memandang segala sesuatunya?"
"Kamu mau tau rahasia hidup saya dalam memandang segala sesuatunya?"
Mughni :
"Tentu, Gus, saya ingin tau rahasia panjenengan."
"Tentu, Gus, saya ingin tau rahasia panjenengan."
Gus Dur :
"Dalam memandang segala sesuatu, gunakanlah 'Mata' Allah."
"Dalam memandang segala sesuatu, gunakanlah 'Mata' Allah."
Mughni :
"Waduh. Bagaimana contohnya?"
"Waduh. Bagaimana contohnya?"
Gus Dur :
"Contohnya begini. Ketika saya didatangi banyak orang yang meminta perlindungan, apakah orang itu benar atau salah, saya terima semuanya dengan lapang dada. Karena apa? Saya selalu yakin, Allah lah yang menggerakan hati mereka untuk datang kepada saya. Jika saya tolak karena mereka bersalah, itu sama saja saya menolak kehendak Allah. Perlindungan saya kepada orang-orang yang disudutkan karena kesalahannya itu, bukanlah bentuk bahwa saya melindungi kesalahannya, tapi saya melindungi kemanusiaannya."
"Contohnya begini. Ketika saya didatangi banyak orang yang meminta perlindungan, apakah orang itu benar atau salah, saya terima semuanya dengan lapang dada. Karena apa? Saya selalu yakin, Allah lah yang menggerakan hati mereka untuk datang kepada saya. Jika saya tolak karena mereka bersalah, itu sama saja saya menolak kehendak Allah. Perlindungan saya kepada orang-orang yang disudutkan karena kesalahannya itu, bukanlah bentuk bahwa saya melindungi kesalahannya, tapi saya melindungi kemanusiaannya."
Mughni :
"Duh.."
"Duh.."
Gus Dur :
"Lebih jauhnya begini. Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca al-Qur'an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi al-Qur'an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda Agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah."
"Lebih jauhnya begini. Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca al-Qur'an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi al-Qur'an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda Agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah."
Mughni :
"Ya Allah.."
"Ya Allah.."
Adaptasi dari tausiyah Guru Niam
Muiz (Haul Gus Dur yang ke-6)
Pelajaran yang bias kita ambil
dari dialog tersebut adalah :
·
Sebenar apapun tingkahmu, sebaik
apapun prilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan
terlalu diambil pusing. Terus saja jalan!
·
Jangan banyak Tapi-tapian karena
itu dapat mempersulit diri kita sendiri.
·
Jika kamu ingin mengatahui apakah
seseorang pernah dilukai hatinya atau tidak, lihatlah tulisannya. Seorang yang
sastra atau tulisannya jelek berarti ia belum pernah dilukai wanita makanya ia
kurang inspirasi. So , jika kalian ingin bisa nulis mintalah perempuan untuk
melukaimu.
·
kebaikan seorang santri tidak
dilihat ketika dia berada di Pondok, melainkan setelah dia menjadi alumni. Kita
tinggal membuktikannya.
·
Janganlah kalian membenci
seseorang karena dia tidak bisa membaca al-Qur'an, karena orang itu yang
berbeda Agama, ataupun karena mereka melanggar moral. Itu artinya kamu
mempertuhankan Al Qur’an, Agama dan Moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang
lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima
semua makhluk. Karena begitulah Allah.
Wallahu a’lam bishowab…
Sabtu, 02 April 2016
Riwayat Situasi Di Indonesia Dari Masa ke Masa
Sekedar untuk
pengetahuan bagi para pembaca mengenai sejarah dan riwayat situasi dan keadaan
di Negara kita Indonesia. Barang kali ada diantara kita yang belum
mengetahuinya. Karena kita sebagai umat islam seyogya-nya paham tentang Negara
kita sendiri, karena siapa yang paham pasti ia cinta. Dan cinta negara
merupakan salah satu dari 77 cabang iman yang harus kita imani.
Gambaran situasi
Indonesia ini dikutip dari buku karya KH Hudun Abdul Ghoni mantingan, Jepara.
Zaman Ir.Soekarno-Hatta ada yang mengatakan , situasi hidup sederhana
(tenang).
Zaman orde baru
Soeharto ada yang mengatakan, situasi hidup senang dan juga ada yang mengatakan
susah (tertekan).
Zaman BJ.Habibie
situasi tegang.
Zaman Gus Dur
situasi bingung.
Zaman Reformasi SBY ada
yang mengatakan demokrasi kebablasan.
Sedangkan untuk Zaman
sekarang yaitu zaman JOKOWI kita bisa mengamati sendiri dan menunggu apa yang akan
dilakukan jokowi. Apakah membawa kemajuan ataupun sebaliknya. Kita hanya bisa
mendoakan yang terbaik.
Sebenarnya semua
berita-berita musibah di darat, di laut, di udara di seluruh dunia tak
terkecuali negara kita Indonesia, itu adalah karena perbuatan manusia-manusia
penghuni dunia itu sendiri, kita perlu ingat, tahu dan mengerti. Terutama
apabila musibah-musibah tersebut sudah menyangkut moral dan akhlak
manusia-manusia tersebut. Kita harus lebih susah dan prihatin. Tetapi di
samping kita susah/prihatin, maka sebaiknya kita juga harus peduli kepada semua
pihak, baik itu pejabat/penguasa ataupun rakyatnya. Karena itulah mari kita
mohon keselamatan/kebahagiaan kepada Allah SWT. Rabb Al-Alamin.
Sesungguhnya ketika
banyak musibah yang menimpa semua umat manusia, kita dianjurkan melafadhkan DOA
QUNUT NAZILAH di akhir sholat-sholat maktubah, sholat jum’at dan lain
sebagainya. Menurut kesadaran dan kepedulian masing-masing, mudah-mudahan para
pembaca mau melaksanakannya. Amin.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)











