Tampilkan postingan dengan label Kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 September 2016
Allah,Liberty and Love
Hasil copas semoga bermanfaat...
Terbawa rasa penasaran seperti apa isi buku Irshad Manji yang sempat menghebohkan, terutama setelah adanya penolakan dan upaya pembubaran bedah buku dari pihak FPI. Mencari-cari dan akhirnya ketemu buku utuh Allah, Liberty & Love: Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan. Buku ini merupakan bukunya yang kedua diterjemahkan dari buku asli berjudul Allah, Liberty and Love: the Courage to Reconcile Faith and Freedom terbitan Random House, Canada, 2011. Buku pertamanya berjudul “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini (terjemahan dari The Trouble with Islam)”.
Buku Allah, Liberty & Love ini berisi 7 bab setebal 349 halaman. Lebih banyak berisi kisah-kisah pergulatan Manji setelah terbit buku pertama, terutama dalam menyuarakan faham kebebasan (liberalisme) di berbagai belahan dunia. 80 persen isinya adalah cerita, surel (email) dari para pengkritik maupun pendukung gerakannya.
Jika Anda ingin memahami latar belakang pemikiran Irshad Manji dari buku ini tidak akan menemukan jawaban yang memuaskan.
Pertama, buku ini bukan buku serius berisi kajian mendalam pemikiran dirinya dari aspek filosofis maupun kajian literatur seperti buku-buku daras filsafat atau sejenisnya. Buku ini lebih banyak menceritakan berbagai hal yang ia temui dari kenyataan-kenyataan mengenai banyak hal: dukungan, hujatan terhadap dirinya, kenyataan diskriminasi di dunia Islam dan di dunia Barat, serta banyak lagi.
Kedua, gaya penulisan buku ini berbeda dari buku teoritis, hal ini lebih karena latar belakang Irshad Manji sebagai jurnalis pada sebuah acara di QueerTelevision New York, sebuah acara di TV dan Internet yang mengupas budaya gay dan lesbian yang belum pernah ada sebelumnya. Pekerjaan ini pada gilirannya sangat mewarnai gaya penulisan Manji.
Ketiga, untuk memahami bagaimana metodologi kajian dari pemikiran Irshad Manji yang ia gunakan, sayangnya tidak dituliskan secara detail dalam dua bukunya. Padahal ini adalah aspek yang sangat penting. Manji lebih tertarik untuk menghantam dan menonjolkan perbedaan cara pandang tanpa membangun sebuah metodologi berpikir yang tersusun secara ilmiah, sehingga bisa dipelajari lebih lanjut. Tapi, mungkin untuk sebagian banyak pembaca, faktor inilah yang justru menyebabkan buku ini berbeda dari buku-buku lain. Karena dikemas seperti novel. Bukan seperti buku teori yang kaku.
Dalam penelusuran saya terhadap dua buku Manji, buku pertama (The Trouble with Islam) lebih tersusun secara urut mengenai sejarah hidup dan latar belakang pemikirannya dibanding dengan buku Allah, Liberty& Love, sehingga dapat lebih mudah memahami mengenai alasan kenapa ia memposisikan diri sebagai pembela hak-hak kaum gay/lesbian sembari membombardir doktrin-doktrin keagamaan yang ia anggap bertentangan dengan nilai yang ia anut.
IM Menyebut Dirinya Sebagai Lesbian?
Identitas Manji sebagai Lesbian (suka terhadap sesama jenis/wanita) dalam buku ini (Allah, Liberty & Love) nyaris kabur. Hanya ada satu pernyataan yang ia katakan mengenai identitas dirinya, sebagai berikut:
“…Fakta bahwa aku seorang lesbian yang menggugat penafsiran harfiah” (hal.31).
Pernyataan itu dilontarkan Manji dalam menanggapi email dari seorang pengkritik bernama Sidique, yang menggangap Manji sebagai duri dalam daging bagi umat Islam.
Pernyataan yang sangat jelas mengenai Irshad Manji sebagai seorang lesbian justru sangat banyak di buku sebelumnya, bahkan lengkap dengan sejarah bagaimana ia menjalin kasih dengan sesama jenis hingga kemudian memutuskan untuk mengambil jalan membela hak-hak kaum gay/lesbi. Simak tulisan Manji berikut ini (The Trouble with Islam, 2008, hal.26-27):
“Pertanyaan pertama adalah, “Bagaimana Anda bisa membuat Islam mampu menerima homoseksualitas?”Secara terbuka, kunyatakan diriku sebagai seorang lesbian. Aku memilih untuk “mengakuinya kepada dunia luar”. Karena, setelah menjadi dewasa dalam rumah tangga yang penuh penderitaan, di bawah kekuasaan Ayah yang sewenang-wenang, aku tidak akan menentang cinta suka-sama-suka yang menawarkan kegembiraan sebagai orang dewasa. Aku bertemu kekasih pertamaku pada usia dua puluhan. Beberapa minggu kemudian, aku menceritakan hubunganku dengannya kepada Ibu. Dia merespons dengan bijak, seperti biasanya. Sehingga, pertanyaan apakah aku bisa menjadi seorang muslim dan seorang lesbian pada saat yang bersamaan hampir tidak menggangguku sama sekali. Yang itu adalah agama. Yang ini adalah kebahagiaan. Aku tahu mana yang lebih kubutuhkan. Sembari mempelajari Islam, aku terus mempelajari seni mempertahankan hubungan dengan perempuan (yang merupakan hal yang lain lagi), memproduksi tayangan TV, dan secara umum menjalani hidup yang penuh pilihan bagi seorang yang berusia dua puluhan di Amerika Utara.
Sejalan dengan pekerjaanku di TV yang telah membuatku menjadi figur publik yang menonjol, harapanku untuk merekonsiliasi homoseksualitas dengan Islam turut berevolusi menjadi kesibukan tersendiri. Aku memasuki periode introspeksi diri yang serius, bahkan juga tergoda dengan kemungkinan untuk meninggalkan Islam demi keutuhan cinta. Tujuan apa lagi yang lebih baik daripada cinta, yang mengharuskan kita mengorbankan segalagalanya?
Tapi, setiap kali aku tenggelam dalam introspeksiku yang sunyi, aku selalu kembali ke dalam realitas. Bukan karena takut. Tapi karena keinginan untuk berlaku adil—terhadap diriku sendiri. Sebuah pertanyaan menuntunku untuk berpikir secara mendalam: jika Tuhan yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa tidak menghendakiku menjadi seorang lesbian, lalu mengapa Dia masih memberiku kesempatan hidup?
Tantangan hebat untuk “menjelaskan diriku” hampir menjadi peristiwa sehari-hari setelah tahun 1998. Pada tahun itu aku mulai memandu acara QueerTelevision, sebuah acara di TV dan Internet yang mengupas budaya gay dan lesbian yang belum pernah ada sebelumnya. Tayangan itu membahas orang, bukan pornografi. Namun demikian, acara itu membuat orang Islam dan Kristen fundamentalis mengeluarkan petisi terbuka yang melawan kehadiranku di layar TV mereka. Sebenarnya aku tidak berharap apa pun. Tetapi, naifkah diriku jika berharap agar mereka tidak langsung mengutukku, melainkan memberiku kesempatan untuk berdialog dengan mereka?
Cara dialog sudah kucoba. Sebagai pencinta perbedaan, termasuk perbedaan pandangan, aku tak pernah mencampakkan surat-surat dari pihak yang mencelaku ke tong sampah. Sungguh, secara teratur aku membacakan surat-surat tersebut pada tayanganku. Misalnya: “Saya memberi tahu Anda bahwa satu-satunya Tuhan dan Tuhan yang sejati, yaitu Tuhan di dalam Injil, telah menegaskan dengan sangat jelas bahwa kaum Sodom telah mengorbankan kemanusiaan demi hawa nafsu yang kacau dan sesat. Karena perbuatan yang nista mereka dibenci Tuhan. Mereka bukan lagi manusia, dan akan segera dihukum…”
Sejumlah muslim yang menelepon dan mengirim e-mail ke QueerTelevision setuju dengan pendapat orang Kristen ini (kecuali pada bagian tentang satu-satunya Tuhan dan Tuhan yang sejati hanya milik Injil). Namun demikian, tidak seorang muslim pun yang menanggapi tantangan balikku, yang kuulang-ulang pada percakapan itu: Bagaimana mungkin Al-Quran pada saat yang sama mencela homoseksualitas dan menyatakan bahwa Allah “membuat sempurna segala sesuatu yang Dia ciptakan”? Bagaimana para pengkritikku menjelaskan fakta bahwa, menurut kitab yang mereka anut, Tuhan secara sengaja merancang kebinekaan dunia yang mencengangkan? Pertanyaan yang menyerang homoseksualitas dengan dalil-dalil Islam sungguh menguji keyakinanku. Tapi, memikirkan pertanyaan itu membuatku sadar bahwa dialog yang sehat adalah sesuatu yang mungkin dilakukan jika kita lebih sedikit peduli pada di mana posisi kita ketimbang di mana kuasa Tuhan.”
Dari kutipan di atas, sangat jelas latar belakang pemikiran Irshad Manji yaitu dari kenyataan bahwa ia seorang Lesbian karena faktor keluarga yang tidak ideal dengan sosok ayah yang menurutnya sewenang-wenang. Faktor psikologis inilah yang, mungkin, kemudian menjadikannya seorang Lesbian. Dan, menurutnya, gay/lesbian jumlahnya bukan sedikit dan itu banyak terjadi di dunia Muslim. Entah karena faktor yang sama dengan dirinya yaitu faktor keluarga ataupun faktor lain. Fakta-fakta dari kunjungan dan pengakuan dari para fans melalui email ia kemukakan secara lengkap.
Dari Muslim Refusenik Hingga Mengklaim Diri Sebagai Mujtahid
Irshad Manji pada tahap awal perkembangan pemikirannya menyebut diri sebagai “Muslim Refusenik”. Pada halaman 8 buku pertamanya ia menulis: “..aku bersiap-siap memasuki bab berikutnya dari kehidupanku sebagai seorang muslim Refusenik.
Apa yang dimaksud Muslim Refusenik? Pada buku pertamanya ada bab khusus, yaitu pada bab pertama, yang menjelaskan tentang Muslim Refusenik ini. Judul bab itu: “Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?”
Manji menyebut istilah Muslim Refusenik dan menjelaskan maknanya sebagai berikut (The Trouble with Islam, 2008, hal.8-9):
“Anda mungkin bertanya-tanya, aku ini siapa, kok berani bicara seperti ini. Aku adalah Muslim Refusenik. Itu tidak berarti aku menolak menjadi seorang muslim. Itu berarti aku menolak untuk bergabung dengan pasukan “robot” yang mudah dimobilisasi secara otomatis untuk melakukan tindakan atas nama Allah. Aku mengambil istilah ini dari kelompok refusenik permulaan: kaum Yahudi Soviet yang memperjuangkan kebebasan beragama dan kebebasan pribadi. Tuan-tuan mereka yang komunis tidak memperbolehkan mereka pindah ke Israel. Karena usaha-usaha mereka untuk meninggalkan Uni Soviet, banyak kaum refusenik harus membayar dengan kerja paksa dan kadang dengan nyawa.
Seiring waktu, penolakan mereka yang tiada henti untuk patuh pada mekanisme kontrol pikiran dan pembunuhan-karakter turut membantu mengakhiri sistem totalitarian di negara itu. Demikian halnya, aku mengangkat topi pada kaum refusenik yang lebih baru—para tentara Israel yang menentang pendudukan militer di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dalam spirit yang sama, kita pun mesti menentang penjajahan ideologis terhadap pikiran kaum muslim.”
Setelah ia menjalani diri sebagai Muslim Refusenik maka ia kemudian merasa harus beranjak dari Muslim Refusenik ke seorang mujtahid (menafsirkan al-Quran dengan cara pandang dirinya). Simak perkataannya berikut ini (The Trouble with Islam, 2008, hal.136):
“Dengan cara begitu, aku telah berhenti menjadi seorang refusenik. Beri jalan aku untuk melakukan Operasi Ijtihad..”
Manji juga memberikan beberapa alasan kenapa ia harus berijtihad:
“Bagiku, jalan ke depan sepertinya harus berusaha menjawab tiga tantangan pada saat yang sama.Pertama, merevitalisasi ekonomi dengan melibatkan potensi wanita. Kedua, memberikan tantangan pada bangsa Arab padang pasir untuk melakukan penafsiran yang beragam terhadap Islam. Ketiga, bekerja sama dengan Barat, bukan melawannya. Di masing-masing tantangan tersebut, apa yang sedang kita runtuhkan adalah semangat tribalisme yang sudah tua.”
Penafsiran Irshad Manji Mengenai Ayat Kaum Luth
Satu hal yang menarik adalah penafsiran bebas Manji terhadap ayat al-Quran mengenai azab terhadap kaum Luth. Ia mengambil jalan bertentangan dengan penafsiran arus besar. Simak apa yang ia tulis berikut ini (Allah, Liberty & Love, 2011, hal.132):
“Nah sekali lagi, patahkan keyakinan dengan ayat-ayat Al-Quran sederhana yang mendorongmu untuk tidak terlalu berlebihan dengan ayat-ayat yang tersirat. Cerita Sodom dan Gomorah—kisah Nabi Luth dalam Islam—tergolong tersirat (ambigu). Kau merasa yakin kalau surat ini mengenai homoseksual, tapi sebetulnya bisa saja mengangkat perkosaan pria “lurus” oleh pria “lurus” lainnya sebagai penggambaran atas kekuasaan dan kontrol. Tuhan menghukum kaum Nabi Luth karena memotong jalur perdagangan, menumpuk kekayaan, dan berlaku tidak hormat terhadap orang luar.
Perkosaan antara pria bisa jadi merupakan dosa disengaja (the sin of choice) untuk menimbulkan ketakutan di kalangan pengembara. Aku tidak tahu apakah aku benar. Namun demikian, menurut Al-Quran, kau pun tidak bisa yakin apakah kau benar. Nah, kalau kau masih terobsesi untuk mengutuk homoseksual, bukankah kau justru yang mempunyai agenda gay? Dan sementara kau begitu, kau tidak menjawab pertanyaan awalku: “Ada apa dengan hatimu yang sesat?”
Irshad Manji Membela Salman Rushdie Dibanding Fatwa Imam Khomeini
Hal lain yang menarik dari buku Allah, Liberty & Love adalah keberpihakan Manji pada Salman Rushdie (pengarang buku Ayat-ayat Setan / Satanic Verses) dan seakan sangat antipati pada Imam Khomeini yang telah mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi Rushdie. Hal itu terlihat jelas ketika ia merasa heran kenapa umur Salman Rushdie lebih lama daripada usia Ayatullah Khomeini yang justru sebagai orang yang memfatwakan kematian Rushdie.
Simak perkataan Manji berikut ini (Allah, Liberty & Love, 2011, hal.2):
“Sungguh luar biasa, Salman Rushdie hidup lebih lama daripada Ayatollah Khomeini! Pada 14 Februari 1986, Khomeini mengerahkan mesin pembunuh di Republik Islam Iran untuk menjanjikan kematian Rushdie, sang pengarang The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan). Namun, novelis ini melawan ulama paling terkenal di dunia itu”.
Itulah butir-butir penting yang dapat ditelusuri dari buku Irshad Manji. Untuk penilaian diserahkan sepenuhnya pada pembaca.**[harjasaputra]
Terbawa rasa penasaran seperti apa isi buku Irshad Manji yang sempat menghebohkan, terutama setelah adanya penolakan dan upaya pembubaran bedah buku dari pihak FPI. Mencari-cari dan akhirnya ketemu buku utuh Allah, Liberty & Love: Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan. Buku ini merupakan bukunya yang kedua diterjemahkan dari buku asli berjudul Allah, Liberty and Love: the Courage to Reconcile Faith and Freedom terbitan Random House, Canada, 2011. Buku pertamanya berjudul “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini (terjemahan dari The Trouble with Islam)”.Buku Allah, Liberty & Love ini berisi 7 bab setebal 349 halaman. Lebih banyak berisi kisah-kisah pergulatan Manji setelah terbit buku pertama, terutama dalam menyuarakan faham kebebasan (liberalisme) di berbagai belahan dunia. 80 persen isinya adalah cerita, surel (email) dari para pengkritik maupun pendukung gerakannya.
Jika Anda ingin memahami latar belakang pemikiran Irshad Manji dari buku ini tidak akan menemukan jawaban yang memuaskan.
Pertama, buku ini bukan buku serius berisi kajian mendalam pemikiran dirinya dari aspek filosofis maupun kajian literatur seperti buku-buku daras filsafat atau sejenisnya. Buku ini lebih banyak menceritakan berbagai hal yang ia temui dari kenyataan-kenyataan mengenai banyak hal: dukungan, hujatan terhadap dirinya, kenyataan diskriminasi di dunia Islam dan di dunia Barat, serta banyak lagi.
Kedua, gaya penulisan buku ini berbeda dari buku teoritis, hal ini lebih karena latar belakang Irshad Manji sebagai jurnalis pada sebuah acara di QueerTelevision New York, sebuah acara di TV dan Internet yang mengupas budaya gay dan lesbian yang belum pernah ada sebelumnya. Pekerjaan ini pada gilirannya sangat mewarnai gaya penulisan Manji.
Ketiga, untuk memahami bagaimana metodologi kajian dari pemikiran Irshad Manji yang ia gunakan, sayangnya tidak dituliskan secara detail dalam dua bukunya. Padahal ini adalah aspek yang sangat penting. Manji lebih tertarik untuk menghantam dan menonjolkan perbedaan cara pandang tanpa membangun sebuah metodologi berpikir yang tersusun secara ilmiah, sehingga bisa dipelajari lebih lanjut. Tapi, mungkin untuk sebagian banyak pembaca, faktor inilah yang justru menyebabkan buku ini berbeda dari buku-buku lain. Karena dikemas seperti novel. Bukan seperti buku teori yang kaku.
Dalam penelusuran saya terhadap dua buku Manji, buku pertama (The Trouble with Islam) lebih tersusun secara urut mengenai sejarah hidup dan latar belakang pemikirannya dibanding dengan buku Allah, Liberty& Love, sehingga dapat lebih mudah memahami mengenai alasan kenapa ia memposisikan diri sebagai pembela hak-hak kaum gay/lesbian sembari membombardir doktrin-doktrin keagamaan yang ia anggap bertentangan dengan nilai yang ia anut.
IM Menyebut Dirinya Sebagai Lesbian?
“…Fakta bahwa aku seorang lesbian yang menggugat penafsiran harfiah” (hal.31).
Pernyataan itu dilontarkan Manji dalam menanggapi email dari seorang pengkritik bernama Sidique, yang menggangap Manji sebagai duri dalam daging bagi umat Islam.
Pernyataan yang sangat jelas mengenai Irshad Manji sebagai seorang lesbian justru sangat banyak di buku sebelumnya, bahkan lengkap dengan sejarah bagaimana ia menjalin kasih dengan sesama jenis hingga kemudian memutuskan untuk mengambil jalan membela hak-hak kaum gay/lesbi. Simak tulisan Manji berikut ini (The Trouble with Islam, 2008, hal.26-27):
“Pertanyaan pertama adalah, “Bagaimana Anda bisa membuat Islam mampu menerima homoseksualitas?”Secara terbuka, kunyatakan diriku sebagai seorang lesbian. Aku memilih untuk “mengakuinya kepada dunia luar”. Karena, setelah menjadi dewasa dalam rumah tangga yang penuh penderitaan, di bawah kekuasaan Ayah yang sewenang-wenang, aku tidak akan menentang cinta suka-sama-suka yang menawarkan kegembiraan sebagai orang dewasa. Aku bertemu kekasih pertamaku pada usia dua puluhan. Beberapa minggu kemudian, aku menceritakan hubunganku dengannya kepada Ibu. Dia merespons dengan bijak, seperti biasanya. Sehingga, pertanyaan apakah aku bisa menjadi seorang muslim dan seorang lesbian pada saat yang bersamaan hampir tidak menggangguku sama sekali. Yang itu adalah agama. Yang ini adalah kebahagiaan. Aku tahu mana yang lebih kubutuhkan. Sembari mempelajari Islam, aku terus mempelajari seni mempertahankan hubungan dengan perempuan (yang merupakan hal yang lain lagi), memproduksi tayangan TV, dan secara umum menjalani hidup yang penuh pilihan bagi seorang yang berusia dua puluhan di Amerika Utara.
Sejalan dengan pekerjaanku di TV yang telah membuatku menjadi figur publik yang menonjol, harapanku untuk merekonsiliasi homoseksualitas dengan Islam turut berevolusi menjadi kesibukan tersendiri. Aku memasuki periode introspeksi diri yang serius, bahkan juga tergoda dengan kemungkinan untuk meninggalkan Islam demi keutuhan cinta. Tujuan apa lagi yang lebih baik daripada cinta, yang mengharuskan kita mengorbankan segalagalanya?
Tapi, setiap kali aku tenggelam dalam introspeksiku yang sunyi, aku selalu kembali ke dalam realitas. Bukan karena takut. Tapi karena keinginan untuk berlaku adil—terhadap diriku sendiri. Sebuah pertanyaan menuntunku untuk berpikir secara mendalam: jika Tuhan yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa tidak menghendakiku menjadi seorang lesbian, lalu mengapa Dia masih memberiku kesempatan hidup?
Tantangan hebat untuk “menjelaskan diriku” hampir menjadi peristiwa sehari-hari setelah tahun 1998. Pada tahun itu aku mulai memandu acara QueerTelevision, sebuah acara di TV dan Internet yang mengupas budaya gay dan lesbian yang belum pernah ada sebelumnya. Tayangan itu membahas orang, bukan pornografi. Namun demikian, acara itu membuat orang Islam dan Kristen fundamentalis mengeluarkan petisi terbuka yang melawan kehadiranku di layar TV mereka. Sebenarnya aku tidak berharap apa pun. Tetapi, naifkah diriku jika berharap agar mereka tidak langsung mengutukku, melainkan memberiku kesempatan untuk berdialog dengan mereka?
Cara dialog sudah kucoba. Sebagai pencinta perbedaan, termasuk perbedaan pandangan, aku tak pernah mencampakkan surat-surat dari pihak yang mencelaku ke tong sampah. Sungguh, secara teratur aku membacakan surat-surat tersebut pada tayanganku. Misalnya: “Saya memberi tahu Anda bahwa satu-satunya Tuhan dan Tuhan yang sejati, yaitu Tuhan di dalam Injil, telah menegaskan dengan sangat jelas bahwa kaum Sodom telah mengorbankan kemanusiaan demi hawa nafsu yang kacau dan sesat. Karena perbuatan yang nista mereka dibenci Tuhan. Mereka bukan lagi manusia, dan akan segera dihukum…”
Sejumlah muslim yang menelepon dan mengirim e-mail ke QueerTelevision setuju dengan pendapat orang Kristen ini (kecuali pada bagian tentang satu-satunya Tuhan dan Tuhan yang sejati hanya milik Injil). Namun demikian, tidak seorang muslim pun yang menanggapi tantangan balikku, yang kuulang-ulang pada percakapan itu: Bagaimana mungkin Al-Quran pada saat yang sama mencela homoseksualitas dan menyatakan bahwa Allah “membuat sempurna segala sesuatu yang Dia ciptakan”? Bagaimana para pengkritikku menjelaskan fakta bahwa, menurut kitab yang mereka anut, Tuhan secara sengaja merancang kebinekaan dunia yang mencengangkan? Pertanyaan yang menyerang homoseksualitas dengan dalil-dalil Islam sungguh menguji keyakinanku. Tapi, memikirkan pertanyaan itu membuatku sadar bahwa dialog yang sehat adalah sesuatu yang mungkin dilakukan jika kita lebih sedikit peduli pada di mana posisi kita ketimbang di mana kuasa Tuhan.”
Dari kutipan di atas, sangat jelas latar belakang pemikiran Irshad Manji yaitu dari kenyataan bahwa ia seorang Lesbian karena faktor keluarga yang tidak ideal dengan sosok ayah yang menurutnya sewenang-wenang. Faktor psikologis inilah yang, mungkin, kemudian menjadikannya seorang Lesbian. Dan, menurutnya, gay/lesbian jumlahnya bukan sedikit dan itu banyak terjadi di dunia Muslim. Entah karena faktor yang sama dengan dirinya yaitu faktor keluarga ataupun faktor lain. Fakta-fakta dari kunjungan dan pengakuan dari para fans melalui email ia kemukakan secara lengkap.
Dari Muslim Refusenik Hingga Mengklaim Diri Sebagai Mujtahid
Irshad Manji pada tahap awal perkembangan pemikirannya menyebut diri sebagai “Muslim Refusenik”. Pada halaman 8 buku pertamanya ia menulis: “..aku bersiap-siap memasuki bab berikutnya dari kehidupanku sebagai seorang muslim Refusenik.
Apa yang dimaksud Muslim Refusenik? Pada buku pertamanya ada bab khusus, yaitu pada bab pertama, yang menjelaskan tentang Muslim Refusenik ini. Judul bab itu: “Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?”
Manji menyebut istilah Muslim Refusenik dan menjelaskan maknanya sebagai berikut (The Trouble with Islam, 2008, hal.8-9):
“Anda mungkin bertanya-tanya, aku ini siapa, kok berani bicara seperti ini. Aku adalah Muslim Refusenik. Itu tidak berarti aku menolak menjadi seorang muslim. Itu berarti aku menolak untuk bergabung dengan pasukan “robot” yang mudah dimobilisasi secara otomatis untuk melakukan tindakan atas nama Allah. Aku mengambil istilah ini dari kelompok refusenik permulaan: kaum Yahudi Soviet yang memperjuangkan kebebasan beragama dan kebebasan pribadi. Tuan-tuan mereka yang komunis tidak memperbolehkan mereka pindah ke Israel. Karena usaha-usaha mereka untuk meninggalkan Uni Soviet, banyak kaum refusenik harus membayar dengan kerja paksa dan kadang dengan nyawa.
Seiring waktu, penolakan mereka yang tiada henti untuk patuh pada mekanisme kontrol pikiran dan pembunuhan-karakter turut membantu mengakhiri sistem totalitarian di negara itu. Demikian halnya, aku mengangkat topi pada kaum refusenik yang lebih baru—para tentara Israel yang menentang pendudukan militer di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dalam spirit yang sama, kita pun mesti menentang penjajahan ideologis terhadap pikiran kaum muslim.”
Setelah ia menjalani diri sebagai Muslim Refusenik maka ia kemudian merasa harus beranjak dari Muslim Refusenik ke seorang mujtahid (menafsirkan al-Quran dengan cara pandang dirinya). Simak perkataannya berikut ini (The Trouble with Islam, 2008, hal.136):
“Dengan cara begitu, aku telah berhenti menjadi seorang refusenik. Beri jalan aku untuk melakukan Operasi Ijtihad..”
Manji juga memberikan beberapa alasan kenapa ia harus berijtihad:
“Bagiku, jalan ke depan sepertinya harus berusaha menjawab tiga tantangan pada saat yang sama.Pertama, merevitalisasi ekonomi dengan melibatkan potensi wanita. Kedua, memberikan tantangan pada bangsa Arab padang pasir untuk melakukan penafsiran yang beragam terhadap Islam. Ketiga, bekerja sama dengan Barat, bukan melawannya. Di masing-masing tantangan tersebut, apa yang sedang kita runtuhkan adalah semangat tribalisme yang sudah tua.”
Penafsiran Irshad Manji Mengenai Ayat Kaum Luth
Satu hal yang menarik adalah penafsiran bebas Manji terhadap ayat al-Quran mengenai azab terhadap kaum Luth. Ia mengambil jalan bertentangan dengan penafsiran arus besar. Simak apa yang ia tulis berikut ini (Allah, Liberty & Love, 2011, hal.132):
“Nah sekali lagi, patahkan keyakinan dengan ayat-ayat Al-Quran sederhana yang mendorongmu untuk tidak terlalu berlebihan dengan ayat-ayat yang tersirat. Cerita Sodom dan Gomorah—kisah Nabi Luth dalam Islam—tergolong tersirat (ambigu). Kau merasa yakin kalau surat ini mengenai homoseksual, tapi sebetulnya bisa saja mengangkat perkosaan pria “lurus” oleh pria “lurus” lainnya sebagai penggambaran atas kekuasaan dan kontrol. Tuhan menghukum kaum Nabi Luth karena memotong jalur perdagangan, menumpuk kekayaan, dan berlaku tidak hormat terhadap orang luar.
Perkosaan antara pria bisa jadi merupakan dosa disengaja (the sin of choice) untuk menimbulkan ketakutan di kalangan pengembara. Aku tidak tahu apakah aku benar. Namun demikian, menurut Al-Quran, kau pun tidak bisa yakin apakah kau benar. Nah, kalau kau masih terobsesi untuk mengutuk homoseksual, bukankah kau justru yang mempunyai agenda gay? Dan sementara kau begitu, kau tidak menjawab pertanyaan awalku: “Ada apa dengan hatimu yang sesat?”
Irshad Manji Membela Salman Rushdie Dibanding Fatwa Imam Khomeini
Hal lain yang menarik dari buku Allah, Liberty & Love adalah keberpihakan Manji pada Salman Rushdie (pengarang buku Ayat-ayat Setan / Satanic Verses) dan seakan sangat antipati pada Imam Khomeini yang telah mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi Rushdie. Hal itu terlihat jelas ketika ia merasa heran kenapa umur Salman Rushdie lebih lama daripada usia Ayatullah Khomeini yang justru sebagai orang yang memfatwakan kematian Rushdie.
Simak perkataan Manji berikut ini (Allah, Liberty & Love, 2011, hal.2):
“Sungguh luar biasa, Salman Rushdie hidup lebih lama daripada Ayatollah Khomeini! Pada 14 Februari 1986, Khomeini mengerahkan mesin pembunuh di Republik Islam Iran untuk menjanjikan kematian Rushdie, sang pengarang The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan). Namun, novelis ini melawan ulama paling terkenal di dunia itu”.
Itulah butir-butir penting yang dapat ditelusuri dari buku Irshad Manji. Untuk penilaian diserahkan sepenuhnya pada pembaca.**[harjasaputra]
Rabu, 20 April 2016
Sunan Nyamplungan dan Sejarah Karimun Jawa
Nama Karimunjawa menurut rakyat setempat tidak terlepas dari sosok Sunan Nyamplung yang bernama asli Amir Hasan. Dia adalah putra Sunan Muria yang sejak kecil agak dimanjakan oleh ibundanya Dewi Sujinah, sehingga perilakunya cenderung nakal. Amir Hasan dititipkan kepada pamannya, Sunan Kudus, dengan harapan perilakunya berubah dan itu menjadi kenyataan karena kemudian ia menjadi sosok pemuda yang sangat taat.
Sunan Muria yang sangat bangga melihat perkembangan putranya itu kemudian memerintahkannya pergi ke salah satu pulau yang terlihat kremun-kremun dari puncak Gunung Muria. Disertai dua orang abdi, Amir Hasan berangkat dan diberi bekal berupa dua buah biji Nyamplung untuk ditanam di pulau tersebut. Di samping itu ia juga membawa Mustaka Masjid (sampai saat ini masih berada di kompleks pemakaman Sunan Nyamplung).
Pulau yang terlihat kremun-kremun dari daratan Jawa itu akhirnya menjadi tempat tinggal Amir Hasan dan pohon Nyamplung yang ditanamnya tumbuh subur berkembang biak hingga mengitari pulau. Sampai sekarang masyarakat menyebut Amir Hasan sebagai "Sunan Nyamplungan".
Tapi saat kepergian Amir Hasan ke pulau itu rupanya tidak dengan sepengetahuan ibunya. Mengetahui anaknya tidak berada di rumah, Sang Ibu terkejut dan segera bergegas menyusulnya ke pantai. Maksudnya hanya ingin memberi tambahan bekal. Sesuai kesukaan anaknya, Nyai Sunan Muria membawakan pecel lele dan siput yang telah dimasak.
Namun, ketika ia sampai di pantai, sang anak telah berangkat bersama dua pengiringnya. Dengan rasa kecewa akhirnya bungkusan pecel lele dan bungkusan siput dibuang ke laut. Atas kehendak Tuhan, bungkusan itu terbawa ombak dan mengikuti perjalanan Amir Hasan sampai ke Karimunjawa. Hal inilah yang konon kemudian mengakibatkan ikan-ikan lele yang ada di Karimunjawa tidak memiliki patil. Areal ini sekarang dikenal dengan nama Legon Lele, yaitu kawasan di bagian timur Pulau Karimunjawa. Demikian pula, konon, sampai sekarang siput yang hidup di Legon Lele juga memiliki ciri khas, yaitu punggungnya belong.
Ular Bermata Buta
Diriwayatkan pula ketika Amir Hasan sampai di daratan Karimunjawa, ia mulai mencari tempat yang cocok untuk menyebarluaskan agama Islam. Tiba-tiba seekor ular menghadangnya. Ular itu bertubuh pendek, berwarna hitam dan sangat berbisa. Ular itu berusaha menggigit Amir Hamzah tetapi tidak mempan. Namun Amir Hamzah sangat marah dan mengutuk ular tersebut menjadi buta. Sampai sekarang jenis ular yang dikenal dengan nama 'Ular Edor' ini, matanya buta dan umumnya tidak mampu untuk bergerak di siang hari.
Konon, kayu yang digunakan Amir Hamzah mengutuk Ular Edor itu ialah Kayu Setigi. Maka tak heran jika Kayu Setigi ini kemudian dipercaya masyarakat Karimunjawa dapat menyerap bisa dari semua binatang, termasuk ular.
Kayu Dewa dan Kalimosodo
Makam Sunan Nyamplungan terletak di Puncak Gunung Karimunjawa sebelah utara. Di pintu gerbang pemakaman itu terdapat dua buah pohon besar, Masyarakat setempat menyebutnya sebagai "Kayu Dewa".
Menurut kepercayaan masyarakat di sana sampai sekarang, kayu Dewadaru ini mempunyai khasiat dan bahkan dikeramatkan. Konon, barang siapa menyimpan kayu tersebut di rumah, akan terhindar dari niat orang mencuri dan orang bermaksud jahat lainnya.
Berat jenis Kayu Dewadaru dan Kayu Segiti lebih besar dari air, sehingga jika diletakkan di air kayu tersebut akan tenggelam.
Sedangkan Kayu Kalimosodo, konon dapat digunakan untuk menghalau lelembut atau roh-roh jahat yang mengganggu manusia. Biasanya, kayu ini diisi mantra-mantra oleh "orang-orang pintar" di sana sesuai keinginan pemilik kayu.
Sunan Muria yang sangat bangga melihat perkembangan putranya itu kemudian memerintahkannya pergi ke salah satu pulau yang terlihat kremun-kremun dari puncak Gunung Muria. Disertai dua orang abdi, Amir Hasan berangkat dan diberi bekal berupa dua buah biji Nyamplung untuk ditanam di pulau tersebut. Di samping itu ia juga membawa Mustaka Masjid (sampai saat ini masih berada di kompleks pemakaman Sunan Nyamplung).
Pulau yang terlihat kremun-kremun dari daratan Jawa itu akhirnya menjadi tempat tinggal Amir Hasan dan pohon Nyamplung yang ditanamnya tumbuh subur berkembang biak hingga mengitari pulau. Sampai sekarang masyarakat menyebut Amir Hasan sebagai "Sunan Nyamplungan".
Tapi saat kepergian Amir Hasan ke pulau itu rupanya tidak dengan sepengetahuan ibunya. Mengetahui anaknya tidak berada di rumah, Sang Ibu terkejut dan segera bergegas menyusulnya ke pantai. Maksudnya hanya ingin memberi tambahan bekal. Sesuai kesukaan anaknya, Nyai Sunan Muria membawakan pecel lele dan siput yang telah dimasak.
Namun, ketika ia sampai di pantai, sang anak telah berangkat bersama dua pengiringnya. Dengan rasa kecewa akhirnya bungkusan pecel lele dan bungkusan siput dibuang ke laut. Atas kehendak Tuhan, bungkusan itu terbawa ombak dan mengikuti perjalanan Amir Hasan sampai ke Karimunjawa. Hal inilah yang konon kemudian mengakibatkan ikan-ikan lele yang ada di Karimunjawa tidak memiliki patil. Areal ini sekarang dikenal dengan nama Legon Lele, yaitu kawasan di bagian timur Pulau Karimunjawa. Demikian pula, konon, sampai sekarang siput yang hidup di Legon Lele juga memiliki ciri khas, yaitu punggungnya belong.
Ular Bermata Buta
Diriwayatkan pula ketika Amir Hasan sampai di daratan Karimunjawa, ia mulai mencari tempat yang cocok untuk menyebarluaskan agama Islam. Tiba-tiba seekor ular menghadangnya. Ular itu bertubuh pendek, berwarna hitam dan sangat berbisa. Ular itu berusaha menggigit Amir Hamzah tetapi tidak mempan. Namun Amir Hamzah sangat marah dan mengutuk ular tersebut menjadi buta. Sampai sekarang jenis ular yang dikenal dengan nama 'Ular Edor' ini, matanya buta dan umumnya tidak mampu untuk bergerak di siang hari.
Konon, kayu yang digunakan Amir Hamzah mengutuk Ular Edor itu ialah Kayu Setigi. Maka tak heran jika Kayu Setigi ini kemudian dipercaya masyarakat Karimunjawa dapat menyerap bisa dari semua binatang, termasuk ular.
Kayu Dewa dan Kalimosodo
Makam Sunan Nyamplungan terletak di Puncak Gunung Karimunjawa sebelah utara. Di pintu gerbang pemakaman itu terdapat dua buah pohon besar, Masyarakat setempat menyebutnya sebagai "Kayu Dewa".
Menurut kepercayaan masyarakat di sana sampai sekarang, kayu Dewadaru ini mempunyai khasiat dan bahkan dikeramatkan. Konon, barang siapa menyimpan kayu tersebut di rumah, akan terhindar dari niat orang mencuri dan orang bermaksud jahat lainnya.
Berat jenis Kayu Dewadaru dan Kayu Segiti lebih besar dari air, sehingga jika diletakkan di air kayu tersebut akan tenggelam.
Sedangkan Kayu Kalimosodo, konon dapat digunakan untuk menghalau lelembut atau roh-roh jahat yang mengganggu manusia. Biasanya, kayu ini diisi mantra-mantra oleh "orang-orang pintar" di sana sesuai keinginan pemilik kayu.
Senin, 11 April 2016
Amilatun Nasibah
"Amilatun nashibah" artinya adalah; amal-amal yg HANYA melelahkan.
Ayat ke3 surah Al Ghosyiyah, rangkaian ayat di awal surah ini bercerita ttg neraka dan para penghuninya.
Ayat ke3 surah Al Ghosyiyah, rangkaian ayat di awal surah ini bercerita ttg neraka dan para penghuninya.
Ternyata salah satu penyebab orang dimasukan ke neraka adalah sebab
amalan yg banyak dan beragam tapi penuh cacat; baik motif dan niatnya,
maupun kaifiyat yg tidak sesuai dengan sunnah Rasululloh sallallahu
alaihi wasallam.
AstaghfiruLlahal'adzhim…
Alkisah, 'Umar bin Khathab menangis saat mendengar ayat ini...
Alkisah juga, suatu hari Atha As-Salami, seorang Tabi`in bermaksud menjual kain yg telah ditenunnya kepada penjual kain di pasar. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, "Ya, Atha sesungguhnya kain yg kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya."
Begitu mendengar bahwa kain yg telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis.
Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, "Atha sahabatku, aku mengatakan dg sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dg harga yg pas."
Tawaran itu dijawabnya, "Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? ketahuilah sesungguhnya yg menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu.
Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yg telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sbg ahlinya ternyata ada cacatnya.
Begitulah aku menangis kepada Alloh dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yg telah aku lakukan selama bertahun- tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Alloh sebagai ahli-Nya ada cacatnya, itulah yg menyebabkan aku menangis."
Semoga kita menyadari sedini mungkin tentang amal yg kita lakukan apakah sudah sesuai ataukah tidak.
Hanya dg ilmulah kita akan mengetahui dimana letak kekurangan amal kita.
Maka BUKAN HANYA dengan beramal sebanyak-banyaknya, tapi juga PENTING untuk beramal dengan SEBENAR-BENARNYA...
Berbahagialah orang yang dibuat memiliki semangat menuntut ilmu yang menjadikan senantiasa mendekat dan lebih mengenal Rabbnya..
Semoga Allah senantiasa merahmati dan memberkahi hidup kita dengan iman...ilmu dan amal...
Aamiin yaa Rabb..
Wallahu a'lam Bishowab.
AstaghfiruLlahal'adzhim…
Alkisah, 'Umar bin Khathab menangis saat mendengar ayat ini...
Alkisah juga, suatu hari Atha As-Salami, seorang Tabi`in bermaksud menjual kain yg telah ditenunnya kepada penjual kain di pasar. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan, "Ya, Atha sesungguhnya kain yg kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya."
Begitu mendengar bahwa kain yg telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis.
Melihat Atha menangis, sang penjual kain berkata, "Atha sahabatku, aku mengatakan dg sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dg harga yg pas."
Tawaran itu dijawabnya, "Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? ketahuilah sesungguhnya yg menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu.
Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yg telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sbg ahlinya ternyata ada cacatnya.
Begitulah aku menangis kepada Alloh dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yg telah aku lakukan selama bertahun- tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Alloh sebagai ahli-Nya ada cacatnya, itulah yg menyebabkan aku menangis."
Semoga kita menyadari sedini mungkin tentang amal yg kita lakukan apakah sudah sesuai ataukah tidak.
Hanya dg ilmulah kita akan mengetahui dimana letak kekurangan amal kita.
Maka BUKAN HANYA dengan beramal sebanyak-banyaknya, tapi juga PENTING untuk beramal dengan SEBENAR-BENARNYA...
Berbahagialah orang yang dibuat memiliki semangat menuntut ilmu yang menjadikan senantiasa mendekat dan lebih mengenal Rabbnya..
Semoga Allah senantiasa merahmati dan memberkahi hidup kita dengan iman...ilmu dan amal...
Aamiin yaa Rabb..
Wallahu a'lam Bishowab.
Rabu, 06 April 2016
Tawadhu Itu Belum Hilang
Kiai Masbuhin, mendengar namanya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ya, KH. Masbuhin Faqih adalah Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin Suci Gresik. Santrinya ribuan, dan pesantrennya seringkali dikunjungi para ulama dan habaib kaliber dunia seperti Habib Salim asy-Syathiri dan Habib Umar bin Hafidz. Apa yang kusaksikan pagi ini benar-benar menampar.
Saya dan beliau serta banyak tamu lainnya, pagi ini jam 8 (Kamis, 14/01) sama-sama di Ndalem (kediaman) Habib Luthfi bin Yahya, di Pekalongan. Sama-sama hendak sowan (menghadap) sang habib. Beliau sudah ada di Ndalem Habib Luthfi lebih awal dari saya. Beliau bertanya: "Sampeyan sudah sering sowan ke sini?"
"Tidak, Kiai. Baru sekali," jawabku.
Ditanya demikian, sangka-ku beliau baru pertamakali sowan. Maka kutanya: "Kiai baru pertamakali sowan ke Abah Habib?"
Jawaban beliau berikut membuatku sangat malu pada diri sendiri. "Tidak, saya sudah dua kali sowan ke sini. Dan Habib Luthfi pernah ke pesantrenku tiga kali," tuturnya kalem.
Kemudian karena biasanya kusaksikan orang-orang yang hendak sowan ke Habib Luthfi mereka langsung naik ke ruangan atas, maka aku pun mengatakan kepada Kiai Masbuhin Faqih: "Kiai tidak langsung ke atas saja?"
Sumber : Farida
Sabtu, 26 Maret 2016
Bosan Menjalani Hidup
Ini
merupakan kisah yang dikutip dari sebuah fanspage di facebook. Sebuah
kisah yang sangat menarik. Mari kita simak kisah di bawah ini!Seorang pria paruh baya mendatangi seorang guru ngaji, “Ustad, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”
Sang Ustad pun tersenyum, “Oh, kamu sakit.”
“Tidak Ustad, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustad meneruskan. “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo.
Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng dan yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan.Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku,” demikian ujar sang Ustad.
“Tidak Ustad, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup,” pria itu menolak tawaran sang Ustad.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”
“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambilah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”
Giliran dia menjadi bingung. Setiap Ustad yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Tapi ustadz yang satu ini aneh. malah Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Ustad edan itu. Dan ia merasakan ketenangan sebagaimana yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai. Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang.Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai sekali. Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan berbisik di telinganya.
“Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sang istripun merasa aneh sekali.
“Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”
Di kantor, ia menyapa setiap orang dan bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?”
Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.
Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.”
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua.”
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi, bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum sore sebelumnya?
”Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini." Ia pun buru-buru mendatangi sang Ustad yang telah memberi racun kepadanya.
Sesampainya di rumah ustad tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.
Apa yg terjadi, melihat wajah pria itu, rupanya sang Ustad langsung mengetahui apa yang telah terjadi. Sang ustad pun berkata,
“Buang saja botol itu. Isinya air biasa kok. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kepasrahan, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan. percayalah .. Allah bersama kita."
Kemudian pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustad, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini ……
Hanya Sebuah Koin Gepeng

Suatu hari seorang laki laki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi keuangan keluarganya porak poranda. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya, sandang maupun pangan. Anak anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tidak tahan dengan kondisi yang ia hadapi, dan dia tidak yakin bahwa perjalanannya kali ini akan membuahkan hasil yang ia inginkan, yaitu mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, ternyata hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” ujarnya kecewa.
Meskipun demikian ia membawa koin itu ke seorang kolektor uang kuno. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai tiga ratus ribu. Ia begitu senang dan mulai memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan rizki tersebut.
Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata bahwa mereka tak punya tempat untuk meletakkan toples. Setelah membeli lembaran kayu seharga 300 ribu, dia memanggul kayu tersebut dn beranjak pulang.
Ditengah perjalanan ia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Ia menawarkan uang sejumlah satu juta pada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata lelaki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan disana ada sebuah lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan ia melewati sebuah perumahan baru. Seoarang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya menengok keluar jendela dan melihat lelaki itu tengah mendorong gerobak yang berisi lemari yang indah. Wanita itu terpikat dan menawarnya dengan harga dua juta. Ketika laki-laki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi dua setengah juta rupiah. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang. Di pintu desa ia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran senilai dua setengah juta rupiah itu. Lalu tiba-tiba ada seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati,merampas uang itu, lalu kabur.
Istri lelaki itu kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya sambil berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik-baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Memang, ada berbagai cara untuk menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak dalam menyikapi kehilangan dan sadar bahwa semua itu hanyalah TITIPAN Allah. Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? “Sesungguhnya kemenangan hidup bukan pada tingkat keberhasilan mendapat banyak, tetapi pada kemampuan mensyukuri apa yang didapat dan menyadari bahwa itu bukanlah miliknya”.(MA/Syr)
adaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns
Hidup Atau Mati Aku Tetap Bahagia
Suatu hari seorang ibu yang terapung di lautan karena kapalnya karam tampak tetap bahagia. Seorang pemuda yang kebetulan berada didekatnya merasa sangat penasaran dan bertanya kepadanya,
“Bu,bagaimana ibu masih bisa berbahagia dalam kondisi yang tidak menentu ini. Jika pertolongan tidak segera datang, maka kita akan mati.”
Ibu itupun menjawab,
“Saya mempunyai dua orang anak laki laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua masih hidup di tanah seberang. Seandainya berhasil selamat, saya sangat bahagia karena saya akan berjumpa dengan anak kedua saya. Dan jika ternyata tidak terselamatkan, maka saya juga bahagia karena akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”
Hikmah dibalik kisah
Berpikir positif dalam keadaan yang sulit membuat seseorang tetap bahagia. Jika kita menyikapi setiap kondisi dengan cara berpikir yang baik, maka apapun kondisinya, kita akan bersyukur. Oleh karena itu, mari kita belajar untuk menyikapi setiap kondisi kita dengan positif.(MA/Syukur)
Belajar Dari Gusdur
Siapa yang tidak kenal dengan yang namanya Gus Dur? Sosok yang mempunyai banyak kisah berharga yang bisa kita jadikan motivasi untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Berikut ada penggalan kisah dari Gus Dur yang ditulis oleh Ahmad Tohari, salah satu budayawan berdasarkan pengalamannya bersama Gus Dur.
Kanjeng Nabi Muhammad SAW pernah tidur di lantai tanah beralaskan tikar dari daun kurma. Maka, ketika beliau bangun ada bekas guratan daun kurma pada pipi beliau. Hal serupa ternyata juga diamalkan mantan Presiden ke-4 RI KH. Abdurrahman
Wahid atau Gus Dur yang beberapa tahun lalu kembali ke haribaan Sang Khaliq.
Pada tahun 1995, Gus Dur tidur dua hari dua malam di rumah Ahmad Tohari yang sederhana di kampung. Malam
pertama, Gus Dur mau tidur di dipan kayu yang Ahmad Tohari sediakan. Tetapi, malam kedua beliau
memilih untuk tidur di karpet murahan yang menutup lantai ruang tengah. Gus
Dur tampak santai dan tidur amat lelap. Kepalanya hanya tersangga bantal
sandaran kursi.
Perihal
Gus Dur suka tidur di karpet sudah diketahui oleh Ahmad Tohari sejak lama. Ketika naik haji
bersama pada 1988, saat tidur di hotel, Gus Dur memilih karpet daripada kasur
kelas satu kamar hotel berbintang lima. Tapi, itu karpet kualitas super.
Ahmad Tohari percaya, Gus Dur melakukan semua itu dengan enak, tanpa pretensi apa pun. Tapi,
istri Ahmad Tohari menjadi tak bisa tidur dan sepanjang malam sering mengusap air mata. Ahmad Tohari pun merenung dalam kesadaran bahwa semua perilaku orang berilmu mengandung
pelajaran. Maka, pelajaran apa yang sedang diberikan Gus Dur kepada keluarga Ahmad Tohari?
Bertahun-tahun
pertanyaan itu mengusik jiwanya. Akhirnya, ia mendapatkan jawaban dan
mudah-mudahan mendekati kebenaran. Dengan rela tidur di lantai, Gus Dur
sesungguhnya sedang memberi sebuah pelajaran untuk menyadari hakikat diri bahwa manusia sehebat
apa pun sesungguhnya tidak ada apa-apanya. Kemuliaan adalah hak Allah semata.
Maka, manusia, siapa pun, tidak pantas merasa mulia, tak pantas minta, apalagi
menuntut untuk dimuliakan. Jadi, semua manusia sepantasnya rela tidur di lantai
karena sesungguhnya tak ada kemuliaan baginya melainkan hak Allah.
Mungkin,
jalan pikiran ini terlalu nyufi. Maka, Ahmad Tohari mulai mencari jawaban di wilayah syariat. Rasanya, ia menemukan jawabannya, yakni pada rukun
Islam yang pertama, syahadat. Setelah syahadat (taukhid) diucapkan fasih dengan
lisan, dibenarkan dengan akal yang dipercaya dengan hati. Lalu? Seperti rukun
Islam yang lain, syahadat sebenarnya menuntut implemantasi dalam bentuk
perilaku nyata sehar-hari. Kalau tidak syahadat, hanya akan menjadi simbol yang tidak melahirkan ihsan.
Orang
Islam mana yang tidak tahu bahwa syahadat adalah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah? Semua tahu, mengerti, dan yakin. Tapi, siapa yang
sudah mengimplementasikan itu dalam kehidupan nyata? Kita memang sudah menjaga
kebersihan syahadat dengan tidak menyembah berhala, tidak percaya dukun, bahkan
mungkin tidak memberhalakan harta maupun kedudukan. Itu sudah hebat sekali.
Namun, masih ada pertanyaan kritis yang menunggu untuk dijawab. Apakah karena sudah
bersyahadat, kita tidak lagi memberhalakan diri dalam segala bentuk dan
manifestasinya?
Merasa bahwa diri sendiri yang paling mulia, istimewa, atau lebih ini lebih itu dari orang lain adalah bentuk awal pemujaan atau peng-ilah-an diri. Tentu saja hal
itu menodai keikhlasan syahadat. Sebab, hanya Allah yang sejatinya mulia,
sejatinya istimewa, dan serba lebih daripada makhluk mana pun. Oleh karena itu,
siapa pun yang ingin memelihara syahadatnya harusnya selalu bersikap tahu diri
kapan dan dimana pun.
Selama hampir 30 tahun Ahmad Tohari bergaul dengan Gus Dur, sikap tahu dirilah yang tampak dan terpancar dari kepribadiannya. Beliau hormat kepada yang tua, sayang
kepada yang muda, dan amat bersahabat dengan teman seusia. Rasa setiakawan beliau
yang mendalam menembus batas ras, agama, status sosial, bahkan batas
kebangsaan.
Dalam satu kalimat, Gus Dur adalah orang yang sangat tahu diri dan menganggap dirinya biasa, sama saja dengan orang lain. Itulah pelajaran dan keteladanan yang Ahmad Tohari
dapatkan. Itulah cara Gus Dur mengajari untuk memelihara syahadat. Caranya,
tidak menganggap diri sendiri mulia atau istimewa, karena keduanya adalah hak Allah.
Dengan demikian, Ahmad Tohari mengerti mengapa Gud Dur rela dan nyaman saja tidur dilantai rumah yang sederhana. Agaknya karena syahadat yang telah terhayati mencegah
diri beliau merasa istimewa atau merasa sebagai manusia mulia. Sementara kebanyakan
dari kita karena tidak menghayati syahadat, sering merasa diri kita sendiri mulia atau
terhormat, atau bahkan menuntut kehormatan. Padahal, sikap seperti itu jelas
mengurangi mutu kesaksian bahwa tidak ada ilah selain Allah. Wallahu a’lam.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)







